Saturday, 28 May 2011

sitasi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Darah merupakan cairan tubuh yang mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan hewan. Pada dasarnya, darah pada makhluk hidup berfungsi sebagai alat transportasi. Darah terdiri dari berbagai macam bentuk, ukuran dan warna. Darah terndiri dari plasma darah dan keping darah, yakni sel darah putih, sel darah merah dan trombosit. Di dalam sel darah merah terdapat hemoglobin untuk mengikat oksigen. Oleh karena itu, dalam praktikum ini semua akan dibahas lebih lengkap.
1. 2. Tujuan
Praktikum Fisiologi Ternak bertujuan agar mahasiswa mampu mengetahui prinsip dan cara-cara perhitungan kadar hemoglobin, mampu mengetahui prinsip dan cara-cara perhitungan jumlah eritrosit dan mampu membandingkan status kadar hemoglobin, jumlah eritrosit pada kondisi tertentu.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Darah
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian. Bahan interselluler yang disebut komponen seluler yang didalamnya terdapat unsur-unsur padat, yaitu sel darah. Sebagian besar sel darah berada di dalam pembuluh, namun leukosit dapat juga bermigrasi melintasi dinding pembuluh darah guna melawan infeksi. Sel darah disusun atas (eritrosit) sel darah merah, (leukosit) sel darah putih dan trombosit atau keping darah. Plasma darah tersusun atas plasma protein, albumin, globulin dan fibrinogen (Sturkie, 1965). Darah dapat dianggap sebagai suatu organ tersendiri, karena memiliki syarat-syarat sebagai organ, tetapi berbentuk cair (Kimball, 1999).
Darah merupakan cairan tubuh yang berada dalam suatu sistem pembuluh darah dan mempunyai fungsi-fungsi yang sangat penting bagi kehidupan hewan dan manusia (Sturkie, 1965). Darah sebagai salah satu cairan tubuh memiliki fungsi yang strategis dalam tubuh antara lain fungsi transportasi, fungsi homeostastis, fungsi protektif dan sebagai bioindikator. Darah terdiri dari sel-sel yang terdapat di dalam plasma darah. Sebagian besar sel-sel darah berada di dalam pembuluh-pembuluh, dan komponen seluler yang terdiri atas eritrosit, leukosit, dan trombosit (Harlod, 1979).
2.2. Fungsi Darah
Fungsi darah adalah membawa nutrien yang telah disiapkan oleh saluran pencernaan menuju jaringan tubuh, membawa oksigen dari paru-paru ke jantung, membawa karbon dioksida dari jaringan ke paru, membawa produk buangan dari berbagai jaringan menuju ke ginjal untuk disekresikan. Membawa hormon ke kelenjar endokrin ke organ-organ lain dalam tubuh. Elemen-elemen darah yang memiliki bentuk meliputi sel-sel darah merah, sel-sel darah putih dan keping darah (Dellman dan Brown, 1989). Darah merupakan cairan tubuh yang berada dalam suatu sistem pembuluh darah dan mempunyai fungsi-fungsi yang sangat penting bagi kehidupan hewan dan manusia (Wade, 1987).
Darah memiliki banyak fungsi yaitu diantaranya sebagai transportasi zat-zat makanan ke jaringan tubuh, transportasi oksigen ke jaringan tubuh, transportasi sisa-sisa metabolisme ke ginjal dapat dibuang, transportasi hormon-hormon dari kelenjar endokrin, pengaturan keseimbangan air dalam jaringan tubuh, berperan dalam sistem buffer, berperan dalam hal pengendalian tubuh dan berfungsi mempertahankan diri dari partikel asing yang masuk dalam tubuh (Harlod, 1979).
2.3. Sel Darah Merah (Eritrosit)
Sel darah merah (bahasa yunani, eritro : merah, sit : sel) dengan spesialisasi untuk mengangkut oksigen. Berbentuk cakram (disk) yang bikonkaf, dengan pinggiran sirkular yang tebalnya 1,5 mm dan pusatnya yang tipis. Cakram bikonkaf tersebut memiliki permukaan relatif luas untuk melakukan pertukaran oksigen yang melintasi membran sel (William, 1985). Sel darah merah memiliki diameter 8 µm yang sanggup melewati secara berulang-ulang mikrosirkulasi yang diameter minimumnya 3,5 µm. Perjalanan total dari sel darah merah dari 120 hari kehidupannya diperkirankan adalah 300 mil. Eritrosit terdiri dari 50% protein, 40% lemak dan 10% karbohidrat (Hoffbrand dan Pettit, 1996).
Standar normal menyebutkan bahwa jumlah eritrosit normal pada unggas adalah 2,3 juta – 3,5 juta/mm3 sedangkan pada manusia adalah 4.700.0000 – 5.200.0000 (Frandson, 1992). Eritrosit sangat kecil, sekitar 3000 bagian dasar dari sel ini berukuran 1 inci. Sel darah merah dewasa merupakan kantong kecil dari hemoglobin, keadaan permukaanya merupakan daerah untuk pertukaran gas. Sel darah merah berfungsi untuk transport oksigen (Kumar, 2004). Jumlah eritrosit berbeda-beda, beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu umur, jenis kelamin, hormon, dan makanan. Jumlah eritrosit 5 - 10 % dari bobot badan (Strukie, 1965). Jumlah eritrosit dapat meningkat dan dapat menurun (Dellman dan Brown, 1989).
Sel darah merah memiliki waktu hidup sekitar 120 hari. Setelah sirkulasi darah ke hati, sel darah merah dibuang dari sirkulasi dan dihancurkan (Kumar, 2004). Penghancuran sel darah merah terjadi setelah berumur 120 hari. Metabolisme sel darah merah perlahan-lahan memburuk karena enzim yang tidak diganti (Hoffbrand dan Pettit, 1996).
2.4. Hemoglobin
Setiap sel darah memiliki perbedaan, sel darah merah terbentuk dari banyak hemoglobin, pigment hemoglobin tersebut yang memberikan warna sebagai karakteristik sel darah merah (Kumar, 2004). Fungsi utama sel darah merah adalah mengangkut oksigen (O2) ke jaringan dan mengembalikan karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru-paru. Untuk mencapai pertukaran gas ini, sel darah merah mengandung protein khusus, yaitu hemoglobin (Hoffbrand dan Pettit, 1980).
Setiap sel darah merah mengandung 640 juta sel hemoglobin dan setiap molekul hemoglobin dewasa normal (Hb A) terdiri atas empat rantai polipertida α2β2, masing-masing dengan gugus hemoglobinya (Hoffbrand dan Pettit, 1996). Setiap molekul hemoglobin terdapat empat atom zat besi, setiap atom dapat dikombinasikan dengan satu molekul oksigen. Hemoglobin dapat dikombinasikan secara kimia dengan empat molekul oksigen untuk dibentuk menjadi oksihemoglobin. setelah terjadi pembentukan tersebut, oksigen dapat dialirkan ke seluruh tubuh (Kumar, 2004). Kadar Hb normal adalah 8–13 %. Kadar hemoglobin pada hewan berkelamin jantan kurang lebih sebesar 13 gram/ 100 ml lebih besar dibandingkan dengan betina yang kurang lebih sebesar 8 gram/ 100 ml. Kadar hemoglobin dipengaruhi oleh gen yang membawa sifat keturunan yang akan diturunkan pada keturuannnya secara turun-temurun (Frandson, 1992).






BAB III
METODOLOGI
Praktikum Fisiologi Ternak dengan materi Penentuan Kadar Hemoglobin, dan Penentuan Jumlah Eritrosit dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 10 Mei 2011 pukul 14.00–16.00 WIB di Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Hewan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro, Semarang.
3.1. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Fisiologi Ternak dengan materi Pengukuran Kadar Hemoglobin, Penentuan Jumlah Eritrosit adalah tabung untuk tempat menyimpan darah unggas, tabung sahli untuk tempat mencampur darah, pipet sahli untuk mengambil darah, selang aspirator untuk menghisap darah, hemometer sebagai pengukur kadar hemoglobin darah, pipet tetes sebagai alat bantu untuk menambahkan larutan, beker glass tempat menyimpan aquadest, bilik hitung sebagai alat bantu penghitungan jumlah eritrosit, pipet eritrosit sebagai alat bantu memindahkan cairan yang terdapat eritrosit, mikroskop untuk alat bantu penglihatan eritrosit.
Bahan yang digunakan dalam praktikum Fisiologi Ternak dengan materi Kadar Hemoglobin dan Jumlah Eritrosit adalah alkohol 70%, darah unggas, HCl 0,1 N dan larutan Hayem.
3.2. Metode
3.2.1. Penentuan Kadar Hemoglobin
Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum Fisiologi Ternak dengan materi Pengukuran Kadar Hemoglobin adalah pengambilan darah, peralatan yang digunakan untuk observasi darah dibersihkan degan alcohol 70%. Hewan percobaan berupa unggas diambil darahnya dari vena brachialis pada bagian sayap. Daerah pengambilan darah dibersihkan degan kapas yang telah di celupkan kedalam alcohol 70%. Vena brachialis ditusuk menggunakan lancet atau jarum suntik dengan arah miring. Tetesan darah yang keluar dipakai untukpemeriksaan kadar hemoglobin. Tabung sahli disiapkan dan diisi dengan HCl 0,1 N sampai skala 2, darah unggas yang telah ada dihisap dengan pipet sahli beserta aspiratornya, darah dihisap sampai batas angka 20 (0,02 ml), kemudian darah yang terdapat dibersihkan dan darah dihembuskan ke dalam tabung sahli, lalu tabung sahli diletakan kembali ke dalam hemometer, kemudian ditunggu hingga kurang lebih 3 menit, setelah itu ditambahkan setetes demi setetes aquadest dengan pipet tetes ke dalam tabung sahli hingga warna larutan sama warnanya dengan warna standar, kemudian tinggi cairan dilihat pada tabung sahli yaitu pada skala kolom g%, kemudian dicatat pada lembar kerja.
3.2.2. Penentuan Jumlah Eritrosit
Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum Fisiologi Ternak dengan materi Penentuan Jumlah Eritrosit adalah menyiapkan bilik hitung, kemudian menyiapkan pipet eritrosit dan aspiratornya, kemudian menghisap darah yang telah ada sampai skala 1,0 pada pipet eritrosit, lalu menghisap larutan hayem sampai skala 101 tanpa ada gelembung udara atau pembekuan darah, melepaskan aspirator dari pipetnya, kemudian menutup kedua ujung pipet dengan jari dan menkocok membuat angka 8 sehingga larutan yang ada tercampur, masukan setetes cairan ke dalam bilik hitung dan mendiamkannya sampai mengendap, kemudian meletakan bilik hitung pada mikroskop dan menghitung butir-butir merah yang ada, kemudian mengalikan jumlah butiran dari kelima kotak dengan 5000, maka akan mendapatkan jumlah eritrosit per mm3, kemudian mencatat pada lembar kerja.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengukuran Kadar Hemoglobin
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil sebagai berikut :


Sumber : Data Primer Praktikum Fisiologi sumber : www.google.com
Ternak 2011.
Ilustrasi 1. Gambar Tabung sahli
Tabel 1. Kadar Hemoglobin
Jenis Darah Kadar Hemoglobin
Darah Unggas 13,2 g%
Sumber : Data Primer Praktikum Fisiologi Ternak, 2011.
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan bahwa kadar hemoglobin adalah 13,2 g%, permasalahan yang muncul adalah kelebihan dari kadar darah yang di tentukan oleh Frandson namun kesalahan 0,2% merupakan faktor kesalahan fisual si pengamat jadi masih bisa di abaikan . Hal ini menunjukan bahwa sampel darah tersebut memiliki jumlah eritrosit normal. Hal ini sesuai pendapat Frandson (1992) yang mengatakan bahwa kadar Hb normal adalah 8–13 %. Hemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah yang berfungsi untuk pengangkutan oksigen. Hal ini sesuai pendapat Hoffbrand dan Pettit (1996) bahwa fungsi utama sel darah merah adalah mengangkut oksigen (O2) ke jaringan dan mengembalikan karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru-paru. Untuk mencapai pertukaran gas ini, sel darah merah mengandung protein khusus, yaitu hemoglobin.
Kadar hemoglobin dipengaruhi oleh faktor seperti lingkungan, umur dan jenis kelamin. Sesuai pendapat Frandson (1992) bahwa kadar hemoglobin pada hewan berkelamin jantan kurang lebih sebesar 13 gram/ 100 ml lebih besar dibandingkan dengan betina yang kurang lebih sebesar 8 gram/ 100 ml. Perbedaan kadar hemoglobin dapat dikarenakan perbedaan proses metabolism dan perbedaan asupan makanan. Kadar hemoglobin juga dipengaruhi oleh gen yang membawa sifat keturunan yang akan diturunkan pada keturuannnya secara turun-temurun.
4.2. Penentuan Jumlah Eritrosit
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
2 1

Sumber : Data Primer Praktikum Fisiologi sumber : www. Wikipedia.com
Ternak, 2011.
Ilustrasi 2. Gambar eritrosit pada neubaeur
Keterangan : 1. Eritrosit
2. Neubaeur
Tabel 2. Jumlah Eritrosit
Jenis Darah Jumlah Eritrosit (5 kotak) Jumlah Eritrosit per mm3
Darah Unggas 382 1910000
Sumber : Data Primer Praktikum Fisiologi Ternak, 2011.
Berdasarkan hasil praktikum menunjukan bahwa jumlah eritrosit dari sampel darah yang diuji adalah 1910000 butir per mm3. Ini menunjukan bahwa jumlah eritrosit tersebut tidak normal ada dua asumsi yang dapat kami simpulkan penyebab jumlah eritrosit tersebut tidak normal hasilnya, asumsi yang pertama adalah karena keadaan lingkungan dan kesehatan hewan yang diambil darahnya sebagai sampel. Asumsi kedua adalah karena larutan hayem dan eritrosit pada pipet eritrosit terlalu keras di kocok dan terlalu lama sehingga eritrositpun banyak yang pecah. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Frandson (1992) standar normal menyebutkan bahwa jumlah eritrosit normal pada unggas adalah 2,3 juta-3,5 juta/mm3. Begitu juga dengan pernyataan Dellman dan Brown (1989) yang menyatakan bahwa jumlah eritrosit dapat meningkat dan dapat menurun. Faktor yang mempengaruhi naik turunnya jumlah eritrosit dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dan kesehatan hewan itu sendiri. Jumlah eritrosit dari suatu individu dapat berbeda-beda, faktor yang mempengaruhinya yaitu jenis kelamin, hormon, makanan dan umur. Hal ini sesuai pendapat Sturkie (1965) bahwa jumlah eritrosit berbeda-beda, beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu umur, jenis kelamin, hormon, dan makanan. Jumlah eritrosit adalah 5-10 % dari bobot badan. Sel darah merah dengan bantuan hemoglobin berfungsi untuk transport O2 dan CO2, yang mana seperti pendapat Kumar (2004) bahwa sel darah merah dewasa merupakan kantong kecil dari hemoglobin, keadaan permukaanya merupakan daerah untuk pertukaran gas. Sel darah merah berfungsi untuk transport oksigen.












BAB V
SIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum ini bahwa sel darah merah atau eritrosit meiliki fungsi untuk transport gas. Dalam sel darah merah terdapat hemoglobin yang berfungsi untuk mengikat oksigen. Jumlah eritrosit normal pada unggas adalah sekitar 2,3 juta sampai 3,5 juta per mm3. Jumlah eritrosit dari suatu individu dapat berbeda-beda, faktor yang mempengaruhinya yaitu jenis kelamin, hormon, makanan dan umur. Dengan kadar normal hemoglobin dalam tubuh yaitu antara 8-13%. Kadar hemoglobin dipengaruhi oleh faktor seperti lingkungan, umur dan jenis kelamin. Darah memiliki fungsi sebagai transport gas dan makanan, pengatur keseimbangan air di dalam tubuh, pengendalian hormon-hormon endokrin dan sistem homeostasis tubuh.














DAFTAR PUSTAKA
Dellman, H. D. dan Brown, E. M. 1989. Buku Teks Histologi Veterainer. Terjemahan Hartono, R. Universitas Indonesia, Jakarta.
Frandson, R.D. 1992. Anatomy and Physiology of Farm Animals, alih bahasa : Bambang Srigandono dan Koen Praseno. UGM Press, Yogyakarta.
Hoffbrand, A.V. dan J.E. Pettit. 1996. Haematologi. Edisi Ke-2. Cetakan Ke-6. Alih Bahasa : Darmawan, Iyan. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Harlod, A. H. 1979. Review of Physiological Chemistry. Diterjemahkan oleh Martin Muliawan. Buku Kedokteran E. G. C, Jakarta.
Kimball, J. W. 1999. Biologi Umum. Erlangga, Jakarta.
Kumar, Ashok. 2004. Animal Physiology. Discovery Publishing House, India.
Sturkie, P. D. 1965. Avian Physiology. Cumeotoek Publishing Associates, New York.
William, A. 1985. Patro Fisiologi. Edisi Ke-7. Jilid 11. Terjemahan, Jakarta.































LAMPIRAN













































RINGKASAN
KELOMPOK IV. 2011. Laporan Resmi Praktikum Fisiologi Ternak ( Asisten
Pembimbing : Swesti Ari )

Praktikum Fisiologi Ternak yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 10 Mei 2011 di Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Hewan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro, Semarang.dengan materi penentuan kadar hemoglobin dan penentuen jumlah eritrosit.






































KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat- Nya kepada kita sehingga laporan Praktikum Fisiologi ternak ini dapat terselesaikan dengan baik. Praktikum Fisiologi Ternak ini bertujuan untuk membuat preparat apus darah, menentukan jumlah eritrosit, dan menentukan kadar hemoglobin. Penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada ibu Ir. Kasyati selaku koordinator Praktikum Fisiologi Ternak, Swesty Ari selaku asisten pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahannya selama praktikum sehingga laporan ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membacanya.


Semarang, Mei 2011


penulis

Post a Comment