Sunday, 15 April 2012

cerpen aku bukan pengecut


AKU BUKAN PENGECUT.

Dalam dua bulan terakhir ini aku sangat sedih dan bahkan tidak mampu berkata-kata. Pertama aku meningalkan dua tanggung jawab yang seharusnya prioritas. Aku menyadari benar dengan apa yang di katakan dengan ’PILIHAN’. Membuat pertimbangan yang berasal dari pola pemikiran kita. Kita telah yakin dan merasa pasti, namun ada yang datang dari luar mempengaruhi pertimbangan itu. Kita seolah terjerat dengan keadaan saat itu. Bagiku itu sebenarnya tidak menjadi sebuah persoalan yang besar, tapi hal yang saya sesalkan adalah apabila teman dan sahabatku dari dua kubuh yang sayya tinggalkan malah membuang wajah dan seolah tak kenal dengan aku. Mereka tertunduk tidak ingin melihatku. Memberikan tanganpun susah untuk saya salam.
Aku bukanlah seorang pengecut hanya itu kata yang bisa aku obrak-abrik di dalam hati ku. Apasih yang aku tinggalkan?!!! Pada tgl 30 Maret-1 April 2012 saya menjadi seorang koodinator untuk sebuah acara spitual leadership treaning, tetapi saat itu saya harus praktikum kuliah dari kampus mata kuliah Manajemen Ternak Potong dan Kerja. Menyakitkan bukan seorang pemimpin tidak bisa mengontrol acara yang di bentuk sampai akhir. Ato jangan jangan anda berpikiran yang aneh-aneh. Acara kog tampa kepala?!
Pada tanggal 14 april aku di temukan lagi dengan hal yang menyakitkan tentang prioritas yang harus di pilih. Aku adalah seorang mentri didalam organisasi Parhata, tiba-tiba saja pemberitahuan ke pada kami untuk tampil. Imformasi yang kami dapatkan itu sebenarnya resmi, tapi pemberi tahuannya sangat mepet, waktu latihan kami cuman 3 hari, sebagai koodinator juga saya haru berjuang menyemangati anggota bahwa kita bisa nampil. Ketika aku harus memperjuangkan tortor itu aku harus meninggalkan acara MPP fakultas kami. Menyedihkan bukan? Bahkan semua teman fakultasku serasa berat memberikan tangannya untuk  saya salam. Ironisnya wajahnyapun di alihkan kemana-mana.
Serasa tidak ada beban sedikitpun. Tiba saatnya kami tampil semangat yang berapi api terlihat dari wajah-wajah teman saya Opit panjaitan, Jesica sibarani, mahesty, Evi simamora, lusi simbolon, Rianto Aritonang yang super eksis, Romerto Sinaga, Andar, Niko Sitompul. Sebelum tampil wajah kami masih sangat cerah dan senyum lebah masih menghiasi wajah kami. Goooooooo, aku melebarkan telinga!!!! Musiknya dimana? ehhhhhhhh eh ternyata musiknya tidak kedengaran, yang namanya musik tortor kalo musiknya ga jelas mana bisa nortor.
Hasilnya berantakan dan tidak terkontrol. Kami turun dari panggung  dengan kepala tertunduk. Memang sihhh rasa kecewa pasti datang, tapi aku masih mengingat doa kami yang mengatakan bukan semata-mata untuk diri kami tapi untuk Tuhan. Masalah penampilan saat itu bukan jadi masalah, kami sudah latihan sebisa waktu dan tenaga buktinya hasil latihan kami sangat memuaskan. Aku hanya berpikir bahwa saat itu adalah berkat Tuhan juga. Kadang sedih, malu, senang, bahagai harus kita sukuri karna itu semua adalah ANUGRAH TUHAN.



By: sandi suroyoco sinambela

Aku menuangkan cerita pendek ini untuk mengingatkan aku selalu menampilkan yang terbaik, jangan menyerah, dan selalu berpikiran positif.
Post a Comment