Sunday, 14 October 2012

1001 sahabat Elno... "Berlari Mengejar Waktu untuk Menepak Tangan Sahabat. By: Sandi Suroyoco Sinambela.


Berlari Mengejar Waktu untuk Menepak Tangan Sahabat.
By: Sandi Suroyoco Sinambela.

            Waktu itu bukanlah suatu yang kebetulan menurutku, itu adalah panggilan hati, intuisi yang besar untuk menemui teman.
Opss!  Hampir saja terlupakan ketika saya melewati stasiun Pasar Minggu langsung teringat satu sahabat saya yang bernama Elno. Saya mengirim pesan ’El aku baru saja lewat dari stasiun Pasar Minggu.  Tak berselang beberapa lama dia langsung membalas. Kenapa sandi ga bilang padahal aku ingin ketemu? Maklum dia tidak ingat siapa Sandi teman SDnya dulu.
            Aku harus menjelaskan bahwa saya saat itu nyampai pagi di Depok dan harus pulang malam ke Semarang. Jadi saya tidak ingat sama sekali untuk mengunjunginya, lagi pula kemungkinan besar tidak akan keburu menurutku.
Sempat berpikir didalam hatiku bahwa apa disaat ini diuji pengorbanan untuk sahabat! Apakah ini perasaan sahabat atau tidak!  Sempat timbul niat untuk kembali ke Pasar Minggu. Pukul 17.58 akhirnya saya tiba di stasiun Jakarta Kota. Saya melihat jabwal pemberangkatan Jakarta semarang pukul 23.10.  saya hitung hitung tidak keburu juga.

Sebenarnya ga tega sih liat cewe menyamperin cowo gak srekkk gituuu.  Langsung aja aku sms El gimana kalau kita ketemuan di stasiun Jakarta Kota?  Sms mu membalas ya udah aku mandi dulu yah,  jujur didalam hatiku aku sangat senang sekali. 

Menanti-nanti sahabat SD. Hanya wajah sedih yang masih tertinggal yang betul betul saya ingat. Kemudian dia hilang. Hanya kabar angin yang menghembus Elno pindah ke Jakarta.

Kamu bergerak dengan semangat dari arah kanan saya. Saat itu saya masih melihat ke sebelah kiri ehh ternyata kamu menanyakan, Sandi kan?  Senyum lebar terpampang di wajah kita. Maklum reunian berdua....

Terlihat wajah tidak berbeda. Bercerita banyak dengan waktu yang sangat terbatas.  Hingga akhirnya desusan mesin kereta harus menghentikan percakapan kita. Dengan tiba-tiba saya harus mengatakan aku berangkat yah El.
Sempat aku berpaling beberapa kali kebelakang.  Aku merasa lega ternyata dia bisa aku lihat tersenyum.  Memori usapan tangis itu sekarang telah ku gantikan. Elno harus semangat...

Trus berjuang...
Lawanlah sedih mu......
Sebab masih banyak lagi orang yang lebih menderita dari Elno.

Bayak orang yang tidak terlihat menangis, tetapi kita tidak tau apakah dia sebenarnya menangis menutupinya sehingga perih air matanya meniris ke hatinya.
Pertanyaan besar yang bisa aku jawab saat bertemu de didalam hatiku ngan Elno.  Mengapa Elno bisa aku kenal pekat di pikiranku? 
Pantas Saja saya harus mengingat nya! Bukan untuk mencuapkan masa lalu kepergian bapa Elno. Tapi saat itu Sandi lah mengucapkan turut berbela sungkawa yang menjadi perwakilan dari teman kelas. Itulah seingat saya. 
Sehingga setiap kali saya lewat dari jalan kenangan pahit itu. Pandanganku tidak pernah lupa melihat rumah itu. Setiap kali saya pulang dari SMA N I Siborongborong saya selalu melihatnya dan langsung mengingat Elno. Sering bertanya-tanya dimana dia!  Sekarang dia ada di Sampingmu  jawab senyumnya.
Post a Comment