Tuesday, 23 October 2012

renungan "MEMBERI" By: Sandi Suroyoco Sinambela


MEMBERI
By: Sandi Suroyoco Sinambela.


Teringat dengan seorang teman yang dari kecil dia adalah orang yang sangat pelit, bahkan hingga sekarangpun dia sangat pelit.  Mempertimbangkan segalanya saat ingin memberi sesuatu kepada orang lain.  saya sering mengatakan bahwa jika dia harus menjadi orang yang sangat kaya.  Sebulir padi pun dia masih berpikir dua kali memberikan kepada temannya padahal dia punya banyak sekali.  Terkadang saya tersenyum melihat teman saya itu, tetapi saya juga sepertinya tidak jauh beda.
Berbeda dari cerita teman saya itu.  Nenek (oppung) pernah mengatakan demikian “setengah dari yang kau miliki sekarang kamu berikan kepada oranglain, kamu tidak akan pernah jatuh miskin.  Lalu saya menjawab, lah oppung!  serius oppung, setengah dari semuanya?  Aku punya dua tangan, kaki dua, mata dua, aku berikan satu? Ia sahutnya sambil dia tersenyum.  Bahkan dia mengatakan segala yang kau berikan kepada oranglain itu bagaikan kau melempar batu ke ketinggian. Itu akan kembali lagi. 

kata-katanya membuat saya terdiam. kemudian dia juga  menegaskan bahwa  pemberian yang tidak iklas sama saja dengan tidak memberikannya. 

ohhh sahut ku, kala itu aku masih sma kelas 1

Suatu ketika saya mengingat kembali apa yang dikatakan oppung itu.  Pada saat kuliah memang banyak sekali kepentingan kita.  Kita banyak meminta kepada oranglain.  Saat ini saya berpikir bahwa sudah sejauh mana saya memberi kepada orang lain.  Apa yang sudah kuberikan kepada orang lain?  Saya sangat sering mengabaikan permintaan tolong dari orang lain.  

Pertanyaan pertanyaan tersebut ternyata membuka hatiku untuk mencari tau kembali apa dan bagai mana saya harus memberi.

timbul niat membaca firman dan ingin mencari tau, 
Suatu pagi saya membaca Alkitab Markus 12:41-44 yang bercerita tentang persembahan seorang janda miskin.  Saya membaca sambil menghayati ayat ini.  Ternyata ada seorang janda yang miskin yang memberikan dua peser pada peti persembahan.  Dan banyak orang kaya yang memberi persembahan dalam jumlah besar.   Saya tersentak saat membaca ayat berikutnya ternyata dua peser yang diberikan janda tersebut adalah merupakan seluruh nafkahnya.  Dan Yesus melihat dan mengatakan kepada murid-muridnya bahwa janda miskin itulah yang memberi yang paling besar. Yesus tahu bahwa janda itu memberikan nafkahnya dengan penuh iklas.

Oppung saya tadi masih mengatakan setengah, namun di ayat Markus ini memperlihatkan kepada kita si janda tua tersebut memberikan seluruhnya nafkahnya.  Seolah tak mampu melakukannya, tapi satu hal yang meyakinkan saya UPAHNYA BESAR DISORGA.

Masihkah kita ragu memberi?
Apakah kita akan selalu berpikir mendapat imbalan saat memberi?

Mungkin anda pernah mengatakan bahwa hidup anda akan anda berikan kepada kekasih anda lalu begai mana dengan memberi kepada orang lain?

Mari kita mulai budaya memberi bukan budaya menerima
Post a Comment