Monday, 22 April 2013

1001 sahabat Giovany “sinderella yang kehilangan sepatu kaca”. Oleh: Sandi Suroyoco Sinambela.


1001 sahabat Giovany “sinderella yang kehilangan sepatu kaca”.
Oleh: Sandi Suroyoco Sinambela.


Giovany sudah lama saya kenal, semester satu kami satu kelas.  Dia adalah anak yang periang,  segala kondisi hatinya pasti terlihat dimimiknya.  Ya! Namanya aja sudah vanny, sepertinya Tuhan sudah menciptakannya untuk nama itu.  Bukan karena dia handal berceloteh, tapi memang karena dia sudah punya karisma yang sudah tergaris di telapak tangannya.
Masalah percaya diri?  Hahahahahaha, gak usah ditanya lagi, dia jagonya.  Body tidak menutupi percaya dirinya. Aku sebut itu sebagai orang yang selalu bersyukur pada yang maha kuasa.

Itulah seorang giovany!  “ dewasa pacaran itu tak merasa disakiti meski dihianati”

Tulisan ini terinspirasi padanya saat ada acara MaMi (malam mingguan) asisten tepat di depan lab Potong. Kala itu gerimis kecil memercik.
Tampa ada sedikitpun intervensi dari orang lain.  Tulisan ini murni saya tulis karena datang dari hati.  Saya melihatnya akur dengan pacarnya yang dulu sebut saja mantannya. “Ari Prima”

Asisten berdatangan satu persatu dengan pakaian polos dengan wajah yang biasa.  Tiba-tiba giovany mencuri seluruh perhatian teman yang lainnya.  “TB (tampi beda)” dia sangat rapi dan bersemangat, memakai rok dengan wajah yang berseri-seri.  Senyumnya manis dan centil menatap teman yang lainnya.  Ini adalah hal yang wajar jika dilakukan di tempat parti.

Dari penampilan itu aku melihat kata yang mengikutinya ” I’m here, look at me!  kicauuuu”   aku sempat menghayal bahwa dia sedang memakai gaun layaknya seperti sinderella yang ada pada dongeng itu.

Gerak geriknya seolah bercerita. Aku tidak tau sama sekali dengan apa yang terjadi pada dirinya. Seiring berjalannya acara tersendak dan mulai mengerti maksudnya.....

Disebuah acara dua orang yang dulunya adalah pasangan yang serasi tiba-tiba harus menjadi dua orang insan yang saling menjaga jarak dan saling menutupi kesedihan hati.  Dipanggung kecil yang basah yang tak beratap, Ari Prima menyanyikan sebuah lagu dari ungu,  lirik itu saya tau arah dan tujuannya:  ... kalau saja waktu itu kutak jumpa dengannya ,,, maafkan aku tlah menduakan cintamu, berat rasa hatiku tinggalkan dirinya......
Sinderella yang kehilangan sepatu kaca,  sepertinya terkunyah hatinya.   Giovani yang sudah berdandan dengan tampilan yang tidak biasa, aku melihatnya seolah kehilangan peniti yang merajut dewasanya.  Saat lagu itu terlantun mulai dia terlihat kebingungan.  
Pada akhirnya saya salut padanya, ternyata dia adalah wanita yang sabar dan wanita yang dewasa.  Gerimis yang terpercik perlahan itu ternyata mampu meredam hatinya yang terselip bara kecil, dia masih mampu mengontrol dirinya dan itulah yang kusebut sebagai wanita yang dewasa!

Pelajaran hidup yang saya dapat dari kejadian itu adalah terkadang cinta itu bisa berperang secara frontal dan jika kita adalah orang yang dewasa maka kita akan mampu mengontrol diri
Post a Comment