Friday, 10 January 2014

Prof Agung Purnomoadi ”Umur bertambah tua, Dewasa” belum tentu”. Oleh: Sandi Suroyoco Sinambela.


Prof Agung ”Umur bertambah tua, Dewasa” belum tentu”.
Oleh: Sandi Suroyoco Sinambela.

Khayal ku bertabur mimpi, dengan berbagai harapan yang menjadi doa pada Sang Kuasa. Berusaha tidak terbuai dengan apa yang sudah kutempuh. Seberkas cahaya memfokuskanku pada arah sebuah tanya “ Tahun ini apa yang harus ku raih kelak! Aku ingin dewasa, aku ingin bijak, aku ingin kreatif, aku ingin lulus, dan aku ingin.... dan 2014 aku harus memulai dan melanjutkan itu.

Sejanak meneduhkan hati, berusaha mencium jejak yang sudah kulalui sebagai cermin dan petunjuk arah yang akan segera membangkitkan gairah hidup. Kadang kala luka bermunculan dan kucoba tepiskan dan melupakan serta mencari jalan pemikiran yang lurus kembali. Semuanya berarti dan semuanya itu adalah proses.

Dari benih ayahku, aku menjadi mahluk hidup. Dari rahim ibuku, aku dikeluarkan berjuang menjadi insan, dirawat hingga balita, disekolahkan jadi SD, beranjak SMP, SMA dan kini kuliah, serta selangkah lagi aku akan mengakhiri masa MAHASISWA.  Aku miliki hari hari pahit dan aku miliki hari hari yang indah. Detik, menit, jam, hari, dan tahun terlewati dengan suka duka.

4 Januari 2014 saya menginjak umur 22, sejenak merefleksikan diri.  Ditengah lagi fokus mengerjakan skripsi, yang ada dalam benak saya adalah saya ingin tegas seperti pak Sularno dan pingin sekali smart kreatif  seperti prof Agung.  Beliau adalah dua dosen pembimbing skripsi saya.

Bayak kalimat yang diucap beliau menuntunku, menjadi sebuah motivasi hidup.  Seringkali memberi titik terang dari kejenuhan yang kudapat.

....“Menjadi tua itu gampang,,, tetapi belajar untuk dewasa adalah hal yang susah”... Prof Agug Purnomoadi dengan senyumnya yang lebar  menyampaikan kata-kata ini. 
Padahal hari-hari sebelumnya saya merasa sedih karena orang tua tak kunjung mengirimkan bulanan “bu, pa, apa sudah lupa punya anak di semarang?” sebenarnya tak pantas saya mengeluh dengan hal itu, tapi masalahnya kantong sudah mengaga dan sudah tengah bulan tgl 16.  Sudah begitu saya selalu berhemat diri untuk membayar uang kos sendiri dari bulanan yang pas-pasan itu.

            Mengingat kalimat “belajar untuk dewasa” saya mendinginkan hati dan meluruskan pikiran yang sudah kacau. Aku harus mengerti kondisi orang tua yang menguliahkan aku dan adik ku. Saat itu aku sadar adikku harus didahulukan karna dia masih maba (2013).  Sesaat aku berpikir, aku yang paling tua dan harus mengalah.  

Mengingat kejadian ini saya sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak mudah.

            Pada bulan Oktober 2013 saya membuat perjanjian pada diri sendiri, ini terkait dengan skripsi yang akan segera saya kerjakan. “melewati tahun baru saya sudah harus maju dua kali konsul skripsi”. Saya menepati hal itu, akan tetapi masih ada yang menganjal dalam benatku. Mengapa aku masih terlihat sok sibuk, temperamen, membisu tak jelas, dan stres dengan skripsi itu. Apakah ini artinya saya masih berjuang melawan malas? Atau sebenarnya saya tidak mensyukurinya!  Sebenarnya saya sudah dijalan terang, tapi mengapa kadang kala saya melompat dari jalan itu, tidak berjuang perlahan-demi perlahan menyelesaikannya.

Saat refleksi itu juga saya mengingat kejadian

Jangan lari dari tanggung jawab, tetapi selesaikanlah secara perlahan.                               
....“saya sudah berkali kali melakukan hal yang anda lakukan tapi saya tidak sesibuk itu”....

Salah satu teman mengeluh dan mengeluarkan air mata didepan beliu (prof Agung).  Yang pasti si mahasiswa (sebut saja bunga) ada masalah dalam tim penelitiannya.  Saat itu saya sadar berarti tidak ada gunanya mengeluh dengan apa yang kita kerjakan.  Jika kita merasa sangat sulit melakukan suatu pekerjaan maka kita harus menatap pekerjaan yang lebih berat dari pada itu.  Pelajaran yang saya dapatkan adalah “seberat apapun pekerjaan kita, jika berusaha dan berjuang terus maka semuanya akan terselesaikan dengan baik dan kita akan merasa optimal.

Saya diajari berpikir luas, ilmu itu bukanlah hal yang kaku, tetapi terkadang orang yang mencari ilmu itulah yang mengakukan diri karna terlebih dahulu takut dengan tantangan yang ada.  Saya yakin bahwa pengetahuan yang beliau miliki sudah menumpuk seperti gunung.  Dan yang menarik ketika beliau mengekspresikannya, yang saya lihat bahwa beliau bagi burung kenari yang mengkombinasikan suara, gerak dan warna.  Tak bosan-bosannya saya terpukau mengikuti arah pembisaraan beliau, meskipun kadang kala saya malah tersesat tak mampu mengikutinya. 

Yang membuat saya bingung adalah saya tidak bisa membedakan beliau sedang stres atau tidak, semuanya terlihat happy.  Ditengah kesibukan yang luar biasa beliau selalu mampu mempertahankan ritme emosinya tetap terjaga.  “andaikan aku bisa mengetahui respon fisiologis beliau”  mungkin dari situlah saya bisa menyimpulkan ada tidaknya stres yang dialami beliau.

Perkataan beliau menunjukkan pada saya jalan terang lagi dan membuat momentum yang luar biasa untuk melangkah dengan semangat.

Kalimat-kalimat tersebut menjadi sebuah pelajaran ditengah bertambahnya umurku.  Ya! Dengan bertambahnya umur otomatis kita akan semakin tua. Ternyata kedewasaan tidak bertumpu pada umur. Dewasa saya artikan sebagai  mampu memberi, bijak, rendah hati, tegas, dan bersyukur.

Umur ke 22 saya harus belajar untuk dewasa
Post a Comment