Wednesday, 23 April 2014

1001 sahabat. Pipit. KKN

1001 sahabat. Pipit.  KKN
Oleh: Sandi Suroyoco Sinambela



Merah mudamu memang sangat membara,  hingga saat ini aku masih mengingat kemarahanmu yang meledak-ledak (tgl 2 Februari 2014),

Tak dapat kau bedakan lebih keras kepalan tangan  daripada kokohnya tembok, kau pukul berkali kali.  Suara benturan tertusuk di telingaku,  saat itu aku persis di belakang tembok yang kau pukul. Saat itu juga aku yang tertahan kantuk tiba-tiba kaget.

Aku segera berdiri spontan,,, kog benturannya sangat keras?   ‘’’’ loh, loh,    ehh, ternyata Pipit lagi marah.
Aku tidak bisa melihat wajahmu, tetapi dari gerak kepalan tanganmu. Jari kakimu, gemetaran terhantam emosi yang meruah-ruah. Kepalanmu yang tumpul terlihat merah, sesekali kau regangkan, untuk menendang rasa sakit. Kepalanmu memang hanya sebatas bengkak, tapi sepertinya hatimu yang berdarah darah karna terbawa emosi yang serta merta membuatmu naik pitam.

Waktu itu, suaraku hampir kencang memanggilmu, kau hiraukan dengan keadaanmu yang memanas.tak dapat aku berkata apa-apa.

Semua orang terpantul yang mencoba meredam suasana hatimu yang sedang kacau, tapi setelah beberapa menit, senyumku agak pelit lantas melihat seorang pria tibatiba bercengkrama denganmu. Terlihat solah tak terjadi apa-apa.

Saat ini aku masih bertanya-tanya, masalah apa yang membuatmu ditunggangi emosi, menghiraukan kuatnya tembok dengan kepalan tangan.

Pelajaran hidup: terbuka akan lebih baik dari pada membiarkan hati kita meledak tak terduga. 
Post a Comment