Saturday, 26 July 2014

PENYAKIT TERNAK di RPH


  PENYAKIT MULUT DAN KUKU

Penyakit PMK bisa di potong seijin dokter hewan.
Penyakit mulut dan kuku adalah penyakit hewan pertama yang dibuktikan disebabkan oleh agen yang dapat melalui saringan. Sejak tahun dua pululan telah dibuktikan oleh peneliti Francis ada 2 tipe virus. Pada saat ini sudah dikenal 7 tipe. Hal ini menerangkan mengana beberapa hewan dapat tenderita PMK dua kali berturut-turut. Ingá tahun 1955 PMK sering menyerang Eropa Barat dalam bentuk epizoosi.
            Penyakit ini disebabkan oleh virus dan digolongkan ke dalam jenis entero virus dari keluarga Picornaviridae. Virus ini dibagi menjadi 7 tipe yang berbeda, yaitu: O, A, C, SAT 1, SAT 2, SAT 3 dan Asia 1. Dari 7 tipe ini sekurang-kurangnya ada 61 subtipe yang berhasil dibedakan dengan uji pengikatan 
Penularan virus pMK dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. Selain itu, penularan dapat pula terjadi melalui angin. Udara infektif dapat tahan sampai beberapa jam di dalam kondisi yang cocok, terutama bila kelembaban relatif lebih besar 70% dan dalam suhu rendah. Pedet dapat tertular penyakit sewaktu minum air susu induk yang terinfeksi.
Masa tunas penyakit ini adalah antara 3 – 8 hari.  Pada awalnya terjadi demam ringan, dan nafsu makan menurun atau hilang, bulu kusam an diikuti dengan peradangan lidah dan mulut bagian dalam yang menyebabkan keluarnya air liur yang banyak, berbuih dan ngiler. Pada gusi,lidah dan pangkal lidah terbentuk lepuh. Lepuh tersebut segera pecah dan menghasilkan tukak sehingga mengakibatkan kesulitan mengunyah. Lepuh serupa dapat terjadi di antara tracak dan di sekitar batas atas kuku sehingga menyebabkan  rasa sakit dan pincang waktu berjalan. Luka yang parah dapat menyebabkan terlepasnya kuku.
Sewaktu tejadi PMK pengendalian yang dilakukan diutamakan pada pemotongan paksa, memperketat arus lalu lintas ternak, penutupan daerah dan vaksinasi massal dengan vaksin subtipe virus yang sama dengan penyebab wabah.

 CACING HATI
Ternak yang terserang sakit hati masih bisa dipotong akan tetapi bagian hati yang terkena cacing tidak boleh di konsumsi.
           Fasciola hepatica ; merupakan penyakit yang berlangsung akut, subakut atau kronik. PCH disebabkan oleh Tremoda genus Fasciola fascioloides dan Dicrocoelium di daerah tropik termasuk Indonesia. “Fasciolasis” paling sering disebabkan oleh spesies Fasciola gigantica yang meyerang ternak sapi, kerbau, kambing dan domba dan babi.
            Daur hidup berbagai jenis fasciola umumnya memiliki pola yang sama, dengan variasi pada ukuran telur, jenis siput sebagai “hospes” intermedietnya. Daur hidup F. hepatica  diawali dengan pembuahan telur dan setelah keluar dari uterus cacing, telur masuk ke dalam saluran kantong empedu. Selanjutnya telur terbawa empedu masuk ke dalam usus dan dikeluarkan bersama “faeces”.  Infeksi oleh cacing F. gigantica menyebabkan kerusakan hati serius dalam bentuk fibrosis, dan anemi pada sapi, kerbau, domba dan kambing.

3.                  ANTHRAX
Jika penyakit anthrax terdeteksi pada ternak maka ternak tersebut didak bisa dipotong.  Tindakan terbaik adalah membakar dan mengubur ternak, atau memusnahkannya.
Nama lain dari penyakit Anthrax adalah : radang limpa. Penyebab penyakit ini adalah bacillus anthacis. Kuman ini memebentuk spora yang dapat hidup selama pulah tahun di tanah, tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim dan bahan kimia (desinfektan). Penularannnya berasal dari tanah yang tercemar organisme/kuman Anthax. Kuman masuk tubuh ternak melalui luka terhirup bersama udara dan atau tertelan.
Tanda dari penyakit ini mengalami kematian mendadak, adanya pendarahan dilubang-lubang kumlah (lubang hidung, lubang anus, pori-pori kulit). Ternak mengalami sulit nafas, demam tinggi, gemetar, sempoyongan, lemah, ambruk, dan kematian secara cepat. Pada kuda terjadi dan babi kebengkakan pada tenggorokan.  Anthrax merupakan penyakit zoonosis yang sangat berbahaya sehingga ternak tersebut dilarang keras untuk dipotong.

4.                  BRUCELLOSIS

Brucellosis merupakan penyakit menular yang menyerang ternak juga manusia mengakibatkan keluron/keguguran.  Pada sapi biasa terjadi pada kebuntingan umur 7  bulan. Anak yang dilahirkan lemah kemudian mati.dapt terjadi gangguan alat reproduksi yang menyebabkan majir temporer atau permanen. Sapi perah yang terserang penyakit ini  produksi susunya menurun.
Penyebab bakteri ini adalah bakteri/kuman Brucella. Brucella melinetis menyerang pada kambing, Brucella abortus menyerang pada sapi. Penularan terjadi melalui saluran makanan, saluran kelamin, dan selaput lendir atau kulit yang luka.  Penularan dapat terjadi pada saat inseminasi buatan akibat senen yang digunakan tercemar oleh kuman Brucella dan menginfeksi ternak yang digembalakan pada padang penggembalaan bersama dengan ternak yang ternfeksi.
Tanda penyakit yang ditemukan pada ternak adalah kemandulan temporer, pada sapi perah terjadi penurunan produksi susu, cairan janin yang keluar kelihatan keruh, pada hewan jantan terjadi peradangan pada buah oelir dan saluran sperma, kadang ditemukan pembengkakan pada persendian lutut.
Brucellosis termasuk kedalam penyakit zoonis yang beresiko tinggi. Oleh karena itu dilarang untuk mengkonsusmsi susu atau produk yang belum atau tidak dimasak. Sapi yang menderita diperbolehkan untuk dipotong berdasar  pengawasan dokter hewan. Daging sebelum dikonsumsi dilayukan terlebih dahulu, sedangkan sisa dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur. Pada saat menangani proses kelahiran ternak yang terkena penyakit ini, diharuskan me ggunakan saeung tangan.

5.                  BOVINE EPHERAL FEVER (BEF)
Nama lain : Bovine epizooric fever, Demam Tiga Hari, Penyakit kaku BEF hanya menyerang pada sapi dan kerbau, tidak menular pada ternak lain. Ternak yang terserang penyakit ini akn sembuh 2-3 hari kemudian. Angka kematian kecil (1%) tetapi angka kesakitan tinggi. Demam tinggi disebakan oleh Cullicoides sp (serangga penghisap darah) dan nyamuk. Tanda penyakit BEF demam (39oC – 42oC), lesu, kekakuan anggota gerak, picang, hypersalivasi, sesak nafas, gemetar.
Ternak yang menderita BEF dapat dipotong dan dagingnya boleh dikonsumsi dan diperdagangkan. Mengingat angka kematian sangat rendah, pemotongan dilakukan pada saat keadaan sangat terpaksa atas dasar anjuran dokter hewan dan pengawasan dokter hewan.
6.                  TRYPANOSOMIASIS
Nama lain : Surra, Penyakit Mubeng.  Penyakit ini disebabkan oleh protozoa Trypanosama evansi. Parasit ini hidup dalam darah induk semang dan memperoleh glukosa. Penularan terjadi secara mekanis dengan perantara lalat penghisap darah.
Tanda penyakit Trypanosomiasis demam, lesu , lemah. Nafsu ,makan berkurang, anemia, bulu rontok, keluar getah radang dari mata dan hidung.
Ternak yang menderita Trypanosomiasis dapat dipotong dibawah pengawasan dokter hewan berwenang, daging dapat diperdangkan atau dikonsumsi 10 jam. Stelah pemotongan. Pengangkuan ternak menuju RPH dilakukan pda malam hari untuk menghindari lalat. Sisa pemotongan yang masih tertingal dibakar dan dikubur, tempat pemotongan dibersihkan dan disucihamakan.
7.                  BLOAT
Nama lain: Kembung perut, Timpani ruminal, Tympanitis, Hoven, Meteorism. Penyakit ini tidak menular. Bloat/ kembung perut merupakan bentuk penyakit/ kelainan alat pencernaan yang bersifat akut, yang disertai penimbunan gas di dalam lambung ternak ruminansia. Penyakit kembung perut pada sapi lebih banyak terjadi pada sapi perah dibandingkan dengan sapi pedaging atau sapi pekerja. Tanda tanda penyakit bloat adalah Perut sebelah kiri membesar, menonjol keluar dan kembung berisi gas. Ternak tidak tenang, gelisah, sebentar berbaring lalu segera bangun. Ternak mengerang kesakitan. Nafsu makan turun bahkan tidak mau makan. Ternak bernapas dengan mulutnya. Pada saat berbaring, ternak menjulurkan lehernya untuk membebaskan angin/ gas dari perut.
Bloat/ kembung perut dapat disebabkan oleh 2 faktor yaitu:
a.                   Faktor makanan/ pakan:

Pemberian hijauan Leguminosa yang berlebihan. Tanaman/ hijauan yang terlalu muda. Biji-bijian yang digiling sampai halus.Imbangan antara pakan hijauan dan konsentrat yang tidak seimbang (konsentrat lebih banyak). Hijauan yang terlalu banyak dipupuk dengan Urea. Hijauan yang dipanen sebelum berbunga (terlalu muda) atau sesudah turunnya hujan terutama pada daerah yang sebelumnya kekurangan air. Makanan yang rusak/ busuk/ berjamur. Rumput/ hijauan yang terkena embun atau terkena air hujan.

b.                  Faktor ternak itu sendiri

 Faktor keturunan.Tingkat kepekaan dari masing masing ternak. Ternak bunting yang kondisinya menurun.Ternak yang sedang sakit atau dalam proses penyembuhan. Ternak yang kurang darah (anemia). Kelemahan tubuh secara umum.



Post a Comment