Sunday, 11 March 2012

Tidak Ada jalan yang lurus dan Tidak Ada Jalan Mulus


TIDAK ADA JALAN LURUS, TIDAK ADA JALAN MULUS
TENTANG PERJUANGAN HIDUP DI DUNIA

Kata-kata yang terusik di telingaku saat berjalan ditengah gerimis menuju tempat kos. Aku terbiasa berjalan setiap harinya berangkat ke kampus dengan waktu kurang lebih 12 menit, dipagi hari aku sangat semangat dan seringkali sambil bernyanyi sambil melangkahkan kaki. Aku berjalan bukan seperti orang lain yang menundukkan kepalanya dan berjalan seperti dikejar sesuatu yang ada di belakang pikirannya. Aku selalu menikmati dan selalu berusaha sabar meskipun sebenarnya keringatku sudah menetes dari dahi hingga ke dagu. Aku tak peduli dengan apa yang bunyi klason angkot yang menggodaku untuk menaikinya. Aku tak peduli melihat teman yang menaiki kendaraan tetapi yang kuperdulikan adalah kekuatan hati dan pikiranku untuk menahan jalan yang tak mulus dan jalan yang tak lurus.
Bersiap melangkahkan langkah kaki adalah suatu proses yang tidak bisa dengan cepat aku lakukan karena itu sangat erat kaitannya dengan kuat rapuhnya hati saat ingin melangkah. Disaat aku berjalan aku seringkali harus bersusah-payah mengitari jalan seperti layaknya sebuah bundaran yang luas hanya untuk menghindari lawan arah dengan penghalang-penghalang yang sewaktu-waktu merenggut nyawa dari  semangat jiwaku. Aku mengitari pada hal ada jalan pintas yang lurus tapi ada sesuatu yang kelam di sana. Satukah diantara mu yang merasakan jalan lurus? Lalu dimana? Aku harus mencucurkan keringat berjalan sedekat itu karena banyak belokan yang harus kutuntaskan, dan kuselesaikan dengan baik.
Mulus bukanlah kata-kata yang sering ku ucapkan atau selalu tersirat di dalam benatku, jika aku mendapat sesuatu yang besar yang ada di benatku adalah syukur dan bukan karena aku. Kerikil-kelikil tajam yang selalu menghalangi langkahku dan duri-duri tajam yang menjerat kakiku itulah jalan yang tidak mulus itu. Aku berusaha merontah-rontah dan melihat jalan kedepan. Aku tak perduli seberapa besar tantangan hidup ini meski kakiku tercabik dan tertancap. Selagi nyawa masih melekat pada badan, aku akan melangkahkan kaki dengan langkah tegap dan dan tidak enundukkan kepala karena di jalan yang berkelok-kelok dan di jalan yang berduri-duri aku adalah pemenang.
Pemenang bukanlah aku yang bermegah, tapi aku adalah yang berjalan terus selangkah dan selangkah lagi dengan harapan melampaui  jalan yang berkelok dan membersihkan jaran yang berduri. Aku akan selalu berjalan dari tempat kos menuju impian besarku.








Post a Comment