Saturday, 28 April 2012
Sunday, 15 April 2012
cerpen aku bukan pengecut
AKU BUKAN PENGECUT.
Dalam dua bulan terakhir ini aku sangat sedih dan
bahkan tidak mampu berkata-kata. Pertama aku meningalkan dua tanggung jawab
yang seharusnya prioritas. Aku menyadari benar dengan apa yang di katakan
dengan ’PILIHAN’. Membuat pertimbangan yang berasal dari pola pemikiran kita.
Kita telah yakin dan merasa pasti, namun ada yang datang dari luar mempengaruhi
pertimbangan itu. Kita seolah terjerat dengan keadaan saat itu. Bagiku itu
sebenarnya tidak menjadi sebuah persoalan yang besar, tapi hal yang saya
sesalkan adalah apabila teman dan sahabatku dari dua kubuh yang sayya
tinggalkan malah membuang wajah dan seolah tak kenal dengan aku. Mereka
tertunduk tidak ingin melihatku. Memberikan tanganpun susah untuk saya salam.
Aku bukanlah seorang pengecut hanya itu kata yang
bisa aku obrak-abrik di dalam hati ku. Apasih yang aku tinggalkan?!!! Pada tgl
30 Maret-1 April 2012 saya menjadi seorang koodinator untuk sebuah acara
spitual leadership treaning, tetapi saat itu saya harus praktikum kuliah dari
kampus mata kuliah Manajemen Ternak Potong dan Kerja. Menyakitkan bukan seorang
pemimpin tidak bisa mengontrol acara yang di bentuk sampai akhir. Ato jangan
jangan anda berpikiran yang aneh-aneh. Acara kog tampa kepala?!
Pada tanggal 14 april aku di temukan lagi dengan
hal yang menyakitkan tentang prioritas yang harus di pilih. Aku adalah seorang
mentri didalam organisasi Parhata, tiba-tiba saja pemberitahuan ke pada kami
untuk tampil. Imformasi yang kami dapatkan itu sebenarnya resmi, tapi pemberi
tahuannya sangat mepet, waktu latihan kami cuman 3 hari, sebagai koodinator
juga saya haru berjuang menyemangati anggota bahwa kita bisa nampil. Ketika aku
harus memperjuangkan tortor itu aku harus meninggalkan acara MPP fakultas kami.
Menyedihkan bukan? Bahkan semua teman fakultasku serasa berat memberikan
tangannya untuk saya salam. Ironisnya
wajahnyapun di alihkan kemana-mana.
Serasa tidak ada beban sedikitpun. Tiba saatnya
kami tampil semangat yang berapi api terlihat dari wajah-wajah teman saya Opit
panjaitan, Jesica sibarani, mahesty, Evi simamora, lusi simbolon, Rianto
Aritonang yang super eksis, Romerto Sinaga, Andar, Niko Sitompul. Sebelum tampil
wajah kami masih sangat cerah dan senyum lebah masih menghiasi wajah kami.
Goooooooo, aku melebarkan telinga!!!! Musiknya dimana? ehhhhhhhh eh ternyata
musiknya tidak kedengaran, yang namanya musik tortor kalo musiknya ga jelas
mana bisa nortor.
Hasilnya berantakan dan tidak terkontrol. Kami
turun dari panggung dengan kepala
tertunduk. Memang sihhh rasa kecewa pasti datang, tapi aku masih mengingat doa
kami yang mengatakan bukan semata-mata untuk diri kami tapi untuk Tuhan.
Masalah penampilan saat itu bukan jadi masalah, kami sudah latihan sebisa waktu
dan tenaga buktinya hasil latihan kami sangat memuaskan. Aku hanya berpikir
bahwa saat itu adalah berkat Tuhan juga. Kadang sedih, malu, senang, bahagai
harus kita sukuri karna itu semua adalah ANUGRAH TUHAN.
By: sandi suroyoco sinambela
Aku menuangkan cerita pendek ini untuk
mengingatkan aku selalu menampilkan yang terbaik, jangan menyerah, dan selalu
berpikiran positif.
Monday, 9 April 2012
karna
Karna
Karna kita akan selalu
bersama
Karna kita akan selalu
berdua
Karna kita adalah
perbedaan yang saling melengkapi
Karna itu jangan pernah
engkau menatapku sebelah mata
Karna harapan lah aku
bisa seperti ini
Karna aku tidak hanya
membual
Karna aku nyatakan
sepenuhnya cinta
Karna tidak ada
sedikitpun benci
Karna itu jangan
sia-siakan pengorbananku
Karna aku telah buktikan
pada semua orang
Karna semua orang tau
Karna aku selamanya
Karna cinta ku tidak akan
pernah pergi kemana
Sunday, 8 April 2012
Kami Bukan Sebagai TAMU Ke Pecinan Melainkan Sebagai PENGAMEN
Kami Bukan Sebagai TAMU
Ke Pecinan Melainkan Sebagai PENGAMEN
Wajah yang tidak asing lagi bagi pedagang-pedagang
di pecinan, pertama-tama mereka senyum melihat kedatangan kami. Tapi ternyata
semakin sering kami setor muka ditempat kumpulan orang-orang Cina itu. Tamu-tamu
itu terhibur dengan suara kami yang berlogat berat keras dan terdengar
semangat-semangat teruntai diliric-lirik lagu. Mereka terhibur dan tertawa
dengan hal yang jarang mereka dengar, tetapi yang kami butuhkan hanyalah satu
yakni selembar apresiasi dari kantong mereka. Tak malu-malu kami mengatakan horas,
sehingga mereka bertanya tanya orang apa yah???? Kebersamaan kami menjadi semakin solid jika melakukannya
berulang-ulang dan penuh semangat. Berapapun yang didapatkan dari hasil ngamen
kami selalu bersukur dan tidak pernah ada kata sungut yang kami bawa pulang
dari Pecinan. Tampa disadari Pecinan membantu dalam menjalankan organisasi yang
kami ikuti yakni organisasi PARHATA. Meskipun kami bukan sebagai tamu melainkan
sebagai pengamen kami tetap enjoy.
By: sandi Suroyoco Sinambela
Monday, 26 March 2012
Together has power, don’t run alone
Kata-kata ini mengusik telingaku bahkan tertancap di bagian lubuk hati yang
paling dalam. Aku membaca kata-kata ini dan meresapinya saat itu aku termenung
sendirian di dan merasa sangat konyol jika aku melakukan sesuatu hal hanya
sendirian. Aku berpikir bahwa jika aku yang mengerjakannya sendiri maka itu
akan menyenangkan hati, merupakan kepuasan tersendiri yang tiada
tandingannya namun itu cuma pemikiran ku. Aku seorang yang sgois ternyata. Bersama
adalah solusi menghilangkan ke individualime itu dan merupakan kekuatan yang tiada tanding. Satu lidi akan
patah dengan sangat mudahnya tetapi jika banyak maka akan sangat kokoh.
Menyedihkan sekali jika aku sendiri dan menyelesaikan semua permasalahanku
tampa melibatkan orang lain. Keegoisan akan sedikit demi sedikit merasuki hidup
ku jika aku selalu berjalan sendiri. So jauhi prinsip bahwa yang pemenang
adalah individu,, BUKAN!!!
by: sandi suroyoco sinambela
Sunday, 18 March 2012
on ma tarombo ni keluarga Buka Sinambela Br. Manik
I.
SIRAJA BATAK
II.
Guru Tatea
Bulan
III.
Raja Isombaon
Ø Nai Ambaton
Ø Nai Rasaon
Ø Tuan
Sorimangaraja
IV.
Tuan
Sorimangaraja
V.
Tuan Sorbanibanua
Ø Sibagotni Pohan
Ø Sipaet Tua
Ø Silahi sabungan
Ø Siraja
Oloan
Ø R. Sihuta lima
Ø Sumba
Ø R. Sobu
Ø Naipospos
VI.
Siraja Oloan
Ø Naibaho
Ø Sihotang
Ø Bakkara
Ø Sinambela
Ø Sihite
Ø Manullang
VII.
Sinambela
Ø Pareme/Tuan Nabolas
Ø Tuan Nabolas/pareme
Ø Bonani onan
VIII. Bonani Onan
IX.
R. RAJA
MANGUNTAL (Sisingamangaraja I)
X.
R. Tinaruan (Sisingamangaraja II)
XI.
R. Itubungna (Sisingamangaraja III)
XII.
R.
Tuansorimangaraja (Sisingamangaraja IV)
R. Tuan sorimangaraja
Ø R. Batuholing
Ø R. Parlogos (Sisingamangaraja V)
XIII. R. Batuholing + br situmorang (A. Parlindungan)
Ø O.R. Parlindungan (Matiti)
Ø O. Togabatu
XIV. O. Togabatu
Ø O.R. Unur/R. Pandapotan
Ø Dugurnihuta
XV.
O.R. Unur +br. Sipahutar (lobusikkam) +br situmorang (Porsea)
Ø O. Sumatangga
Ø O. Gumara
Ø O. Pantampun
XVI. O. Sumatangga
Ø O. Angur
Ø O. Untur
Ø O. Abor
Ø O. Parbunga (di
parbubu)
XVII. O. Abor +
Br Pardede (A.
Kobos)
Ø O. Siangin
Ø Bontis (????????)
XVIII. O. Siangin (A.
Kobos/A. Turi)
Ø O. Paimin (Turi)
Ø R. Salomo (Pangadang/O.
Duaksa)
Ø O. Manaek (A.
Kasi di Lumban Raja Bakara)
Ø Mallo (????????)
XIX. R. Salomo
+ Br Simanungkalit, Br Lumban
Gaol
Ø Humeri (O.
Mangiring)
Ø R. Thomas (A.
Joab/O. Manurgas)
Ø Dikkodemus (O.
Mariduk)
XX.
R.
Thomas + A. Br Sipahutar( boruni O.
Binsar)
Ø Joab (O.
Panca)
Ø Bonauli (O.
Bonggal)
XXI. O. Panca
+ E. Br Hutasoit
Ø Manurgas Hatorusan + Br Simanjuntak
Ø Buka + Br Manik
Ø Manses +
Br hutasoit
XXII. Buka
Ø Bosar BE (A.
Biko + Br Togatorop)
Brian Sinambela (Biko)
Brian Sinambela (Biko)
Ø Sarmo (A.
Roman + Br siregar)
Roman Dirga Sinambela
Roman Dirga Sinambela
Ø Suanro
Ø Sandi Suroyoco (saya)
Ø Sarmanto
Nb: nomor XVI (enambelas) ma au sian sinambela
Thursday, 15 March 2012
ptpk sandi
Hasil Praktikum Evaluasi
1. Analisa Bahan Kering Pakan Rumput Lapangan = 20,58% Bekatul = 90,18 %
1. Analisa Bahan Kering Pakan Rumput Lapangan = 20,58% Bekatul = 90,18 %
Berdasarkan hasil praktikum analisis bahan kering pakan diperoleh hasil seperti BK rumput lapang sebesar 20,58%, BK bekatul 90,18%. Rumput lapangan, dan bekatul, memiliki kadar BK yang sangat baik untuk pakan ternak karena berada di atas standar BK yaitu rumput lapangan sebesar 23%, bekatul sebesar 86%. Kandungan BK rumput lapangan yang berada di bawah standarnya ini disebabkan oleh nutrisi dalam tanah dan umur ketika pemotongan. Kandungan BK bekatul yang berada di atas standarnya ini disebabkan oleh kandungan air yang ada pada bekatul tersebut. Kebutuhan pakan domba secara kuantitatif dinyatakan dengan kebutuhan bahan kering (BK). Konsumsi BK dipengaruhi oleh bangsa, jenis ternak, umur, palatabilitas pakan dan kondisi ternak. Kebutuhan BK domba yang digemukan dengan bobot badan 15-20 kg adalah 5% BB (Purbowati, 2009). Kandungan BK bekatul sebesar 89,97% dengan kandungan nutrisi dalam 100% BK adalah 14,41% PK, 17,72% abu, 17,48% SK, 8,19% LK, 42,20% BETN dan kecernaan nutriennya 7,67% perbedaan nilai–nilai komposisi nutrient bahan pakan disebabkan karena perbedaan lokasi tempat penanaman yang berhubungan dengan ketersediaan N di dalam tanah (Farida, 1998). Rumput lapangan memiliki BK 23% LK 2,2% SK 35,7%, BETN 41,7% TDN 13% PK 12,2%. Bekatul memiliki BK 86%. (Chalimi, 2009).
2. Pertumbuhan dan Perkembangan
Bobot Awal : 18,25 kg
Bobot Akhir : 17,01 kg
PBBH : -0,164
Berdasarkan hasil pengamatan, pertumbuhan dan perkembangan domba dalam waktu 7 hari dengan bobot awal 17,35 kg dan bobot akhir 20 kg menghasilkan PBBH sebesar 0,37 atau mengalami kenaikan berat badan sebesar 3 kg. Standar PBBH domba adalah sebesar 42,7 gr. Hal ini terjadi karena dalam pemberian hijauan dan konsentrat pada domba terkontrol dengan baik dan domba dalam keadaan sehat dan sedang mengalami kebuntingan, sehingga energi yang diperoleh dalam tubuh domba optimum untuk pertambahan bobot badannya. Faktor yang mempengaruhi PBBH diantaranya jenis kelamin, umur dan jenis domba. jenis kelamin betina, pertumbuhan bobot badan akan cepat dari lahir sampai kepubertas, kemudian saat dewasa tubuh maka pertumbuhannya akan berkurang. Jenis domba yang dipelihara adalah domba ekor gemuk. Menurut pendapat Rianto et al. (2004) yang menyatakan bahwa peningkatan konsumsi BK dan PK, kecernaan dan metabolisme protein mengakibatkan peningkatan jumlah protein yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan jaringan tubuh ternak yang nantinya dapat digunakan untuk peningkatan bobot badan ternak. Pakan (terutama bentuk pakan), konsumsi pakan dan kandungan nutrisi sangat mempengaruhi PBBH, sehingga dapat diperoleh rata-rata PBBH domba per harinya adalah sebesar 42,7gr (Tarmidi, 2004). Faktor yang mempengaruhi PBBH yaitu jenis domba, jenis kelamin, umur, dan penampilan fisik (Siregar, 2008).
3. Pengamatan Fisiologi Ternak
Suhu Rektal = 38,7°C
Denyut Nadi = 70 kali/menit
Frekuensi Nafas = 43 kali/menit
Berdasarkan pengamatan fisiologi ternak bahwa suhu rektal domba yang diperoleh sebesar 38,7°C. Suhu rektal diukur dengan cara memasukkan termometer kedalam rektal ternak secara perlahan-lahan hingga suhu konstan. Pengukuran suhu rektal bertujuan untuk mengetahui kondisi fisiologis domba. Suhu rektal domba tersebut berada di bawah / kurang dari suhu normal namun selisihnya dengan standar masih dekat yakni 0,2oC normalnya yaitu antara 38,9°C-40°C. Denyut nadi sebanyak 70 kali/menit. Standar denyut nadi pada domba adalah 70-90. Hal tersebut menandakan karena domba dalam keadaan normal. Sedangkan frekuensi nafas sebanyak 43 kali/menit di atas normal yaitu 20-30 kali/menit. Hal ini disebabkan oleh tingkat aktivitas domba dan keadaan lingkungan kandang yang kurang mendukung sehingga mengakibatkan domba memiliki frekuensi nafas yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi fisiologi ternak diantaranya suhu udara, kelembaban udara, dan kondisi ternak itu sendiri dan perlakuan yang dilakukan pada ternak saat melakukan aktifitas pengukuran nafas tersebut. Suhu rektal pada ternak potong sehat terutama pada domba yaitu 102°F (39,06°C) (Farida, 1998). Suhu rektal domba berkisar antara 38.9°C-40°C, denyut nadi 70-90, dan frekuensi nafas 20-30. Faktor yang mempengaruhi suhu rektal, frekuensi nafas dan denyut nadi yaitu tingkat aktifitas dan keadaan lingkungan ternak (Murtidjo, 1993).
4. Pengamatan Fisiologi Lingkungan
Mikroklimat
Waktu Suhu (oC) Rh (%)
06.00 26,6 82
12.00 33 48,4
18.00 28,6 66,7
21.00 26’9 80,9
Rata-rata 28,75 69,5
Makroklimat
Waktu Suhu (oC) Rh (%)
06.00 23,7 81,7
12.00 32,3 50
18.00 25,6 73,4
21.00 24 83,6
Rata-rata 26,3 72,17
Berdasarkan pengamatan fisiologi lingkungan diperoleh hasil rata-rata seperti suhu kandang (Mikroklimat) sebesar 28,75°C dan kelembaban udaranya sekitar 69,5%. Sedangkan suhu diluar kandang (Makroklimat) sebesar 26,3°C dan kelembaban udaranya sekitar 72,17%. Hasil suhu dan kelembaban dari dua tempat tersebut sesuai dengan suhu dan kelembaban yang nyaman pada domba dewasa yang berkisar antara 19-35°C dan 60-80%. Suhu dan kelembaban udara merupakan faktor yang penting dari iklim karena besar pengaruhnya terhadap kondisi fisiologis dan produktifitas ternak. Keadaan suhu lingkungan dan kelembaban berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan karena berkaitan dengan metabolisme. Umumya pada suhu yang nyaman laju konsumsi pakan pada ternak akan meningkat karena cenderung energi hanya diperlukan untuk proses metabolisme. Apabila suhu lingkungan tinggi maka ternak cenderung untuk mengkonsumsi air lebih banyak untuk proses homeostasis, apabila hal tersebut berlanjut maka tingkat konsumsi akan menurun dan menghambat produksi, khususnya untuk produksi daging. Suhu nyaman pada ternak domba anakan berkisar 24-26oC, pada domba dewasa 19-35oC (Hanafi, 2004). Kelembaban nyaman pada ternak domba berkisar 60-80% (Frandson, 1986).
Iklim makro maupun iklim mikro dapat berpengaruh langsung terhadap penampilan produktivitas ternak. Pengaruh tidak langsung adalah ketersediaan hijauan pakan ternak yang cepat tua menyebabkan tingginya serat kasar, sedangkan penganah langsungnya adalah terjadinya stress panas atau dingin, sehingga ternak menderita stress atau ternak merasa tidak nyaman yang berakibat terhadap penurunan produksi dan reproduksi ternak (Murtidjo, 1993). Pada keadaan suhu lingkungan yang lebih tinggi dari yang dibutuhkan, nafsu makan akan menurun dan konsumsi air meningkat. Akibatnya, otot-otot daging lambat membesar dan daya tahan tubuh pun menurun (Suparman, 2001).
5. Konversi Pakan
PBBH = -0.164
Konsumsi Total BK = 0,23
Konversi Pakan = -4,024
Berdasarkan hasil praktikum, konversi pakan dapat dihitung melalui penenaikan bobot badan sebesar 0,37 kg/hari dan konsumsi total BK 0,6035 kgBK. Konversi pakan adalah 1,63. Hal ini mennunjukkan bahwa pemberian bahan pakan yang diberikan untuk rumput lapangan dan bekatulnya tercerna dengan baik, serat kasar dan kandungan nutrisi, tetapi belum memenuhi standart karena BK dan SK rumput lapang yang tinggi. Pakan yang dikonsumsi tidak sebanding dengan bobot badan yang seharusnya bertambah pada domba. Faktor yang dapat mempengaruhi konversi pakan adalah bentuk pakan ternak, strain, kandungan nutrisi ransum, jenis kelamin serta suhu. Standar konversi pakan yang baik adalah 5 - 6,5 Faktor lain yang mempengaruhi konversi pakan yaitu: bentuk pakan ternak, strain, kandungan nutrisi ransum, jenis kelamin serta suhu. Suhu yang terlalu tinggi mengakibatkan konversi pakan meningkat, begitu juga pada suhu yang terlalu rendah (Anggorodi, 1979).
Konversi pakan khususnya pada ternak ruminansia dipengaruhi oleh kualitas pakan, pertambahan bobot badan dan nilai kecernaan. Memberikan kualitas pakan yang baik kepada ternak pertumbuhannya akan lebih cepat dan lebih baik konversi pakannya (Hartadi, 1997). Konversi pakan yang baik yaitu 5 – 6,5 (Rasyaf, 1992).
6. Efisiensi Pakan
PBBH = -
Konsumsi Total BK = 0,66
Efisiensi Pakan = -24,85% Berdasarkan hasil praktikum bahwa efisiensi pakan dapat dihitung karena terjadi kenaikan bobot badan sebesar 0,37 kg/hari. Perbandingan jumlah unit produk yang dihasilkan sebanding dengan jumlah unit konsumsi hijauan dan konsentrat yang dikonsumsi sehingga efisiensi pakannya dapat dihitung karena PBBH yang dihasilkan mengalami peningkatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pakan adalah bahan pakan, palatabilitas, kandungan nutrien, dan daya cerna. Efisienfi pakan berdasarkan praktikum mendapat hasil yang sangat tinggi yaitu 61,3% itu disebabkan karena ternak tersebut dalam keadaan bunting. Standar efisiensi pakan yang baik adalah 13%.
Hartadi (1997) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi daya cerna adalah palatabilitas, daya cerna, kandungan nutrien, bahan pakan yang diberikan. Efisiensi untuk pakan yang ada sekitar 13% (Purbowati, 2009). Menurut Farida (1998) menyatakan bahwa efisiensi pakan menurun pada suhu di atas optimum.
7. Daya Cerna
Total BK Feses
Konsumsi Total BK = 0,66
Hasil Daya Cerna = 55%
Berdasarkan hasil praktikum mengenai daya cerna diperoleh hasil daya cerna pakan sebesar 70,2%. Artinya dari 0,6035 kg BK pakan yang dikonsumsi adalah 70,2% dapat tercerna, selebihnya terbuang dalam bentuk feses. Hasil daya cerna yang diperoleh lebih rendah dari hasil standar daya cerna yaitu 75%. Daya cerna yang didapat hampir mencapai standar yang telah di tentukan, tetapi masih belum memenuhi. Hal ini kemungkinan diakibatkan oleh perbedaan jenis bahan pakan yang diberikan pada ternak. Serat kasar memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap daya cerna pakan. Semakin tinggi kandungan serat kasar pada bahan pakan maka semakin rendah daya cerna bahan pakan tersebut. Pakan hijauan (rumput) kering dapat membuat daya cerna menurun akibat kadar serat kasarnya yang tinggi (Suparman, 2001). Daya cerna BK sekitar 75% (Sudarmono, 2007). Pemanfaatan energi pakan oleh ternak untuk berproduksi dipengaruhi oleh imbangan protein-energi pakan. Energi yang keluar sebagai feses yaitu antara 45 – 50% dari total konsumsi energi (Farida, 1998). Rianto et al. (2004) menambahkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi daya cerna adalah komposisi kimiawi (khususnya serat kasar), pengolahan makanan, jumlah makanan yang diberikan, jenis ternak.
8. Feed Cost per Gain
Harga Hijauan = Rp. 400,-/kg
Harga Bekatul = Rp. 2700,-/kg
Hasilnya = Rp. -6.600,-/kg Berdasarkan hasil praktikum bahwa feed cost per gain yang didapatkan sebesar Rp. 2824,97,-/kg. Artinya untuk meningkatkan bobot badan 0,37 kg diperlukan biaya 2824,97,-. Hal tersebut karena PBBH yang didapatkan mengalami peningkatan yang tinggi sehingga berpengaruh pada biaya untuk memenuhi kebutuhan pun menjadi lebih rendah dan sebanding dengan produktivitas yang dihasilkan. Untuk meminimalisirkan biaya yang dikeluarkan maka perlu memilih bahan pakan yang memiliki harga rendah dengan kualitas pakan yang baik. Nilai feed cost per gain (FC/G) dihitung berdasarkan biaya pakan pada saat pemeliharaan berlangsung dan PBBH yang dihasilkan (Purbowati et al., 2009). Feed cost per gain dihitung berdasarkan biaya pakan pada saat penelitian berlangsung saat PBBH dihasilkan (Tarmidi, 2004).
9. Evaluasi Perkandangan
Tipe kandang = Kandang Panggung.
Model kandang = Kandang Individu Kandang yang digunakan yaitu kandang individu dan bertipe kandang panggung. Kandang batere digunakan untuk menempatkan domba secara individu sedangkan kandang koloni digunakan untuk menempatkan domba secara berkelompok. Kandang yang baik akan memberikan kenyamanan dan membuat ternak sehat dan bersih. Kandang tipe panggung cukup baik untuk ternak domba, karena memudahkan proses sanitasi. Kandang individu berisi 1 ekor domba dengan ukuran 0,75 x 1 m. Standar kandang individu untuk penggemukan membutuhkan luas kandang 0,75 x 1 m, karena memberikan ruang gerak yang sedikit memberikan pergerakan yang sedikit sehingga mengefisiensi energi didalam tubuh. Atap kandang terbuat dari asbes, yang merupakan bahan yang dapat menyerap panas. Lantai kandang domba terbuat dari kayu yang diberi jarak sekitar 1 - 2 cm bertujuan agar kotoran bisa langsung jatuh ke bawah. Tempat pakan terbuat dari kayu yang dilapisi dengan plastik, tujuannya yaitu agar pakan tidak jatuh ke bawah dan terbuang. Selokan pada kandang domba baik koloni maupun individu kurang efektif karena kecil, dan ditambah lagi jika ada sisa pakan yang menyumbat maka air tidak dapat mengalir dengan lancar. Sirkulasi pada kandang invidu maupun koloni cukup baik karena mempunyai banyak ventilasi udara. Fasilitas yang ada didalam kandang adalah atap, penyangga samping, dinding kayu, tiang beton, kran air, penampungan limbah,tangga semen, tempat pakan dan minum, kandang sampel uji, selokan, kandang koloni, dan kandang individu. Kandang sangat diperlukan dalam pemeliharaan domba baik secara ekstensif, semi-intensif, dan intensif. Kandang panggung adalah kandang yang dibangun seperti rumah panggung (Hanafi, 2004). Penempatan domba dalam kandang ada 2 model perkandangan, yaitu kandang koloni dan kandang batere. Ukuran kandang koloni 2,5 x 1 m untuk 6 - 8 ekor domba. Untuk kandang individu induk membutuhkan luas kandang 1 x 1 m, bagian kandang induk dan anaknya memerlukan luas 1,5 m, dan 0,75 x 1 m dan untuk kandang pejantan membutuhkan luas kandang 2 x 1,5m (Murtidjo, 1993) Pembuatan kandang seharusnya memperhatikan beberapa hal diantaranya yaitu biologis ternak, dimana tiap-tiap ternak memiliki berbagai sistem perkandangan. Selain itu yang harus diperhatikan adalah letak kandang, arah kandang, atap, ventilasi, lantai kandang, kolong, saluran pembuangan kotoran, jalan kandang, gudang pakan, serta sarana dan prasarana kandang (Purbowati, 2009).
Sodiq dan Abidin (2008) menyatakan bahwa kandang domba memiliki beberapa fungsi sebagai tempat untuk istirahat, tempat berlindung dari panasnya matahari pada musim kemarau dan hujan pada musim penghujan, untuk mempermudah pengecekan pakan dan minum.
10. Carrying Capacity
Produksi Lahan per tahun
583.000 kg/tahun.
Produksi Lahan per hari
1597,808 kg/hari.
Produksi per hari dalam BK
328,82 kg/hari
Hasil CC
471 ekor domba dengan bobot rata-rata 17,4375 kg. Carrying capacity merupakan kemampuan lahan untuk memenuhi kebutuhan hijauan pakan dalam suatu lahan tanpa mengubah atau mengurangi luas lahan. Produksi lahan selama satu tahun sebanyak 538.000 kg/tahun, sedangkan produksi lahan per hari 1597,808 kg/hari dengan lahan seluas 4,5 ha dapat menampung dan memenuhi kebutuhan pakan domba dewasa sebanyak 471 ekor domba dengan bobot rata-rata 17,4375 kg. Kapasitas tampung (Carrying Capacity) adalah jumlah hijauan makanan ternak yang dapat disediakan oleh padang penggembalaan untuk kebutuhan ternak selama 1 tahun yang dinyatakan dalam satuan ternak per hektar (Chalimi, 2009). Kemampuan lingkungan mempunyai batasan sehingga apabila keadaan lingkungan berubah maka daya dukung lingkungan juga berubah. Hal ini karena daya dukung lingkungan dipengaruhi oleh faktor pembatas, seperti: cuaca, iklim, pembakaran, banjir, gempa, dan kegiatan manusia (Suparman, 2001).
LAMPIRAN
Lampiran 1. Perhitungan Analisis Bahan Kering Pakan
Tabel 1. Analisis Kadar BK Rumput Lapangan
Loyang Berat Loyang (g) Berat Hijauan sebelum dioven (g) Berat loyang + sampel setelah dioven (g)
1 32,344 10,001 34.430
2 33,877 10,002 35.920
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011.
BK Pakan =
BK Rumput lapangan 1 =
= 20,85%
BK Rumput lapangan 2 =
= 20,32%
BK rata-rata =
= 20,58%
Lampiran 1. Perhitungan Analisis Bahan Kering Pakan (lanjutan)
Tabel 2. Analisis Kadar BK Bekatul
Loyang Berat Loyang (g) Berat Konsentrat sebelum dioven (g) Berat loyang + sampel setelah dioven (g)
1 6,669 10,009 15,703
2 6,773 10,003 15,788
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011.
BK Pakan =
BK Bekatul 1 =
= 90,25%
BK Bekatul 2 =
= 90,12%
BK rata-rata =
= 90,18 %
Lampiran 2. Kebutuhan Pakan
Bobot awal domba = 17,35 kg
PBBH target = 0,025 kg/hari
BB tujuan = BB awal + (PBBH x lama pemeliharaan)
= 17,35 +( 0,025 x 7 )
= 17,525 kg
Bobot Rata-rata domba = BB awal + BB tujuan
2
= 17,35 + 17,525
2
= 17,4375 kg
Kebutuhan BK Pakan = 4% x BB rata-rata domba
= 4% x 17,4375
= 0,6975 kgBK
Perbandingan RL : Bekatul : = 60%:40%
Kebutuhan BK Rumput Lapangan = 60% x kebutuhan BK
= 60% x 0,6975 kg
= 0,4185 kg BK
Kebutuhan BS Rumput Lapangan =
= 2,0335 kg BS
Kebutuhan BK bekatul = 40% x 0,6975 kg
= 0,279 kg BK
Kebutuhan BS bekatul dalam =
= 0,3093 kg BS
Lampiran 3. Tabel Perhitungan Konsumsi Pakan
Tabel 4. Konsumsi Pakan
Tanggal Pemberian (kg) Sisa pakan (kg) Konsumsi (kg)
Hijauan Konsentrat Hijauan Konsentrat Hijauan Konsentrat
27 November 2011 2,033 0,309 0,50 0,183 1,53 0,126
28 November 2011 2,033 0,309 0,50 0,093 1,53 0,216
29 November 2011 2,033 0,309 0,1 - 1,93 0,309
30 November 2011 2,033 0,309 0,08 - 1,95 0,309
1 Desember 2011 2,033 0,309 - - 2,033 0,309
2 Desember 2011 2,033 0,309 0,6 0,128 1,43 0,181
3 Desember 2011 2,033 0,309 0,1 - 1,93 0,309
Rata-rata 2,033 0,309 0,62 0,0577 1,835 0,2512
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011.
PBBH = 0,37 kg/hari
Konsumsi Hijauan BS = 1,83 kg BS
Konsumsi BK Hijauan =
=
= 0,37 kg BK
Konsumsi Konsentrat BS = 0,25 kg BS
Konsumsi BK Konsentrat =
=
= 0,22 kg BK
Konsumsi BK total = Konsumsi Bk hijauan + Konsumsi BK bekatul
= 0,22+ 0,37
= 0,60 kg BK
Lampiran 4. Perhitungan Bobot Badan Harian (PBBH)
Bobot badan awal = 17,35 kg
Bobot badan akhir = 20 kg
Lama pemeliharaan = 7 hari
PBBH =
=
= 0,37 kg/hari
Lampiran 5. Evaluasi Pakan
Perhitungan dengan Rumus Interpolasi
Bobot badan awal = 17,35 kg
Bobot Akhir = 20 kg
PBBH = 0,37 kg/hari
BB Rata-rata = 18,67 kg
Tabel 5. Tabel Kebutuhan Pakan
BB (kg) PBBH (kg) BK (kg)
15 0,37 0,73
18,67 0,37 X
20 0,37 0,97
Sumber: Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries (Kearl, 1982).
BB rata-rata =
=
= 18,67 kg
X15 =
=
=
- 0,17 = 0,56 - X
X = 0,73
Lampiran 5. Evaluasi Pakan (lanjutan)
X20 =
=
=
-0,26 = 0,71 – X
X = 0,97 kgBK
X =
=
=
0,063 = 0,97 – X
X = 0,90 kgBK
Konsumsi BK total = 0,60 kg BK
Kebutuhan BK menurut Interpolasi = 0,90 kg BK
Kecukupan BK = 0,60-0,90
= - 0,3 kg BK
Artinya = telah terjadi kekurangan konsumsi BK sebesar – 0, 3 kg BK.
Jika konsumsi lebih besar dari kebutuhan dan bobot badan akhir naik berarti bagus
Lampiran 6. Perhitungan Konversi Pakan
Konsumsi BK Total = 0,6035 kgBK
PBBH = 0,37 kg/hari
Konversi Pakan =
=
= 1,63
Lampiran 7. Perhitungan Efisiensi Pakan
PBBH = 0,37 kg/hari
Konsumsi BK total = 0,6035 kgBK
Efisiensi pakan =
=
= 61,3%
Lampiran 8. Perhitungan BK Feses
Berat feses total (koloni) : 267 gram
Tabel 6. Analisis BK feses
Loyang Berat Loyang (g) Berat Feses sebelum dioven (g) Berat loyang + sampel setelah dioven (g)
1 6,427 10,000 12,936
2 6,696 10,006 13,201
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011.
BK feses =
BK feses 1 =
= 65,9 %
BK feses 2 =
= 65,1 %
BK rata-rata =
= 65,05 %
Total BK Feses = 65,05% x 0,267
= 0,1736 kg
Lampiran 9. Perhitungan Daya Cerna
Total BK feses = 0,1736 kgBK
Konsumsi BK total = 0,6035 kgBK
Daya cerna =
= 71,23%
Lampiran 10. Perhitungan Feed Cost Per Gain
Harga hijauan = Rp. 200,-/kg
Harga konsentrat = Rp. 2700,-/kg
Konsumsi hijauan segar = 1,835 kg
Konsumsi konsentrat segar = 0,2512 kg
PBBH = 0,37 kg
Feed cost per gain =
=
=
= Rp. 2824,97-/kg
= Rp. 2824,97-/kg BB/hari
Lampiran 11. Fisiologi Ternak
Tabel 7. Pengukuran Suhu Rektal Ternak
Tanggal Jam Pengukuran Suhu Rektal (oC) Rata-rata
2 Desember 2011 06.00 1 38,8 38,5
2 38,2
12.00 1 39,5 39,25
2 39,0
18.00 1 39,5 39,45
2 39,4
24.00 1 38,8 38,45
2 38,1
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011.
Tabel 8. Pengukuran Frekuensi Nafas Ternak
Tanggal Jam Pengukuran Frekuensi nafas (kali/menit) Rata-rata
2 Desember 2011 06.00 1 20 20
2 21
12.00 1 58 59
2 60
18.00 1 54 51
2 48
24.00 1 45 43
2 41
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011.
Lampiran 11. Fisiologi Ternak (lanjutan)
Tabel 9. Pengukuran denyut nadi ternak
Tanggal Jam Pengukuran Denyut nadi (kali/menit) Rata-rata
2 Desember 2011 06.00 1 81 79,5
2 78
12.00 1 92 98,5
2 105
18.00 1 98 98,5
2 99
24.00 1 106 104,5
2 103
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011.
Lampiran 12. Fisiologi Lingkungan Ternak
Tabel 10. Pengukuran Suhu dan Kelembaban
Tanggal Waktu Mikroklimat Makroklimat
Suhu (oC) Rh (%) Suhu (oC) Rh (%)
27 November 2011 06.00 28 91 25 78
12.00 35 55 34 45
18.00 31 72 28 70
21.00 29 95 25 85
28 November 2011 06.00 28 96 24 85
12.00 34 60 34 51
18.00 25 99 22 86
21.00 24 100 22 89
29 November 2011 06.00 26 100 22 86
12.00 31 65 30 56
18.00 28 93 24 85
21.00 27 96 24 84
30 November 2011 06.00 26 97 23 83
12.00 32 43 31 54
18.00 28 95 24 96
21.00 24 96 24 84
1 Desember 2011 06.00 26 91 23 78
12.00 33 60 32 54
18.00 29 79 26 76
21.00 29 85 25 80
2 Desember 2011 06.00 26 99 28 79
12.00 34 56 34 44
18.00 30 29 28 25
21.00 26 94 24 81
3 Desember 2011 06.00 26 97 23 83
12.00 32 58 31 45
18.00 29 79 27 76
21.00 27 94 24 82
Rata-rata 28,75 69,5 29,6 68,7
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011.
Lampiran 13. Perhitungan Carrying Capacity
Luas lahan = 4,5 ha = 45.000 m2
Sampel I = 2,1 kg/ m2
Sampel II = 2,6 kg/ m2
Sampel III = 1,8 kg/ m2
Berat sampel rata-rata = 2,16 kg/ m2
Produksi lahan = berat sampel rata-rata x luas lahan
= 2,16 x 45.000
= 97200 kg BS
Produksi Lahan/tahun = +
= +
= 437400 + 145800
= 583200 kg/tahun
Produksi Lahan/hari (BS) =
=
= 1597,808 kg BS/hari
Produksi. Lahan / hari (BK) = BK rumput lapang x Produksi. Lahan / hari (BS)
= 20,58% x 1597,808
= 328,82 kg BK/hari
Carrying capacity =
=
=
= 471 ekor domba dengan bobot rata-rata 17,4375kg
Lampiran 14. Gambar kandang (tampak depan, samping, belakang, atas)
Ilustrasi 1. Kandang tampak depan Ilustrasi 2. Kandang tampak samping
Keterangan : Keterangan :
Atap 10. Selokan 1. Atap
Penyangga Atap Samping 11. Kandang Koloni (Kanan) 2. Tiang Beton
Dinding Kayu 12. Kandang Individu (Kiri) 3. Dinding Kayu
Tiang Beton 4. Penampungan Feses
Kran Air
Penampungan Limbah
Tangga Semen
Tempat Pakan dan Minum
Kandang Sampel Uji
Ilustrasi 3. Kandang tampak belakang Ilustrasi 4. Kandang tampak atas
Keterangan : Keterangan :
Atap 10. Selokan 1. Kandang Individu
Penyangga Atap Samping 11. Kandang Koloni (Kanan) 2. Tangga Kandang Individu
Dinding Kayu 12. Kandang Individu (Kiri) 3. Tempat Pakan Kandang Individu
Tiang Beton 4. Kandang Koloni
Kran Air 5. Tangga Kandang Koloni
Penampungan Limbah 6. Tempat Pakan Kandang Koloni
Tangga Semen 7. Kandang Sampel Uji
Tempat Pakan dan Minum
Kandang Sampel Uji
Lampiran 15. Denah perkandangan
Ilustrasi 5. Denah perkandangan
Keterangan :
Kandang Domba Koloni F. PKM
Kandang Domba Individu G. Kandang Domba
MES / Gudang P. Parkiran
Kandang Sapi
Gudang Pakan
Subscribe to:
Posts (Atom)