Saturday, 28 April 2012

Aku dan mereka jumpa gakk yahh di ajal


Aku dan mereka jumpa gakk yahh di ajal?

Mereka tertawa padahal wajahku mengerut.
Mereka tidak tau dengan apa yang ku alami.
Padahal wajah sudah memberi isyarat.
Keringatku yang bercucuran tapi dia yang makan hasilnya.
Melahap seperti si buas.
Hanya meninggalkan tulang saja.
Aku berdiri atas kuatnya tulang kakiku,
Tapi mereka berdiri atas pundakku.
Kakiku sudah tenggelam tapi mereka masih saja tetap tertawa.
Aku tetap berusaha kuat, selama hidupku masih ada.
Aku tunggu mereka sadar.
Mereka yang membuat beban buatku.
Aku tunggu mereka buyar,
Ato aku tunggu mereka mati!!!!
Mereka menikmati sesuatu yang tidak akan pernah aku nikmati.
Aku mengores tanah, dan Aku menggembala.
Dan hasilnya memberikan aku kehidupan.
Mereka mengorek, dan membalak.
Mereka menggores lembar putih.
Semua kekejian yang mereka lakukan.
Tak berani aku, hanya karena kekuasaannya.
Sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Masih meginginkan yang ingin kumiliki.
Kau dan aku tidak akan pernah ada titik temu lagi
Sebelum kau temu dengan titik ajal atau aku!

by: sandi s sinambela

Sunday, 15 April 2012

cerpen aku bukan pengecut


AKU BUKAN PENGECUT.

Dalam dua bulan terakhir ini aku sangat sedih dan bahkan tidak mampu berkata-kata. Pertama aku meningalkan dua tanggung jawab yang seharusnya prioritas. Aku menyadari benar dengan apa yang di katakan dengan ’PILIHAN’. Membuat pertimbangan yang berasal dari pola pemikiran kita. Kita telah yakin dan merasa pasti, namun ada yang datang dari luar mempengaruhi pertimbangan itu. Kita seolah terjerat dengan keadaan saat itu. Bagiku itu sebenarnya tidak menjadi sebuah persoalan yang besar, tapi hal yang saya sesalkan adalah apabila teman dan sahabatku dari dua kubuh yang sayya tinggalkan malah membuang wajah dan seolah tak kenal dengan aku. Mereka tertunduk tidak ingin melihatku. Memberikan tanganpun susah untuk saya salam.
Aku bukanlah seorang pengecut hanya itu kata yang bisa aku obrak-abrik di dalam hati ku. Apasih yang aku tinggalkan?!!! Pada tgl 30 Maret-1 April 2012 saya menjadi seorang koodinator untuk sebuah acara spitual leadership treaning, tetapi saat itu saya harus praktikum kuliah dari kampus mata kuliah Manajemen Ternak Potong dan Kerja. Menyakitkan bukan seorang pemimpin tidak bisa mengontrol acara yang di bentuk sampai akhir. Ato jangan jangan anda berpikiran yang aneh-aneh. Acara kog tampa kepala?!
Pada tanggal 14 april aku di temukan lagi dengan hal yang menyakitkan tentang prioritas yang harus di pilih. Aku adalah seorang mentri didalam organisasi Parhata, tiba-tiba saja pemberitahuan ke pada kami untuk tampil. Imformasi yang kami dapatkan itu sebenarnya resmi, tapi pemberi tahuannya sangat mepet, waktu latihan kami cuman 3 hari, sebagai koodinator juga saya haru berjuang menyemangati anggota bahwa kita bisa nampil. Ketika aku harus memperjuangkan tortor itu aku harus meninggalkan acara MPP fakultas kami. Menyedihkan bukan? Bahkan semua teman fakultasku serasa berat memberikan tangannya untuk  saya salam. Ironisnya wajahnyapun di alihkan kemana-mana.
Serasa tidak ada beban sedikitpun. Tiba saatnya kami tampil semangat yang berapi api terlihat dari wajah-wajah teman saya Opit panjaitan, Jesica sibarani, mahesty, Evi simamora, lusi simbolon, Rianto Aritonang yang super eksis, Romerto Sinaga, Andar, Niko Sitompul. Sebelum tampil wajah kami masih sangat cerah dan senyum lebah masih menghiasi wajah kami. Goooooooo, aku melebarkan telinga!!!! Musiknya dimana? ehhhhhhhh eh ternyata musiknya tidak kedengaran, yang namanya musik tortor kalo musiknya ga jelas mana bisa nortor.
Hasilnya berantakan dan tidak terkontrol. Kami turun dari panggung  dengan kepala tertunduk. Memang sihhh rasa kecewa pasti datang, tapi aku masih mengingat doa kami yang mengatakan bukan semata-mata untuk diri kami tapi untuk Tuhan. Masalah penampilan saat itu bukan jadi masalah, kami sudah latihan sebisa waktu dan tenaga buktinya hasil latihan kami sangat memuaskan. Aku hanya berpikir bahwa saat itu adalah berkat Tuhan juga. Kadang sedih, malu, senang, bahagai harus kita sukuri karna itu semua adalah ANUGRAH TUHAN.



By: sandi suroyoco sinambela

Aku menuangkan cerita pendek ini untuk mengingatkan aku selalu menampilkan yang terbaik, jangan menyerah, dan selalu berpikiran positif.

Monday, 9 April 2012

karna


Karna

Karna kita akan selalu bersama
Karna kita akan selalu berdua
Karna kita adalah perbedaan yang saling melengkapi
Karna itu jangan pernah engkau menatapku sebelah mata

Karna harapan lah aku bisa seperti ini
Karna aku tidak hanya membual
Karna aku nyatakan sepenuhnya cinta
Karna tidak ada sedikitpun benci
Karna itu jangan sia-siakan pengorbananku

Karna aku telah buktikan pada semua orang
Karna semua orang tau
Karna aku selamanya
Karna cinta ku tidak akan pernah pergi kemana

Sunday, 8 April 2012

Kami Bukan Sebagai TAMU Ke Pecinan Melainkan Sebagai PENGAMEN


Kami Bukan Sebagai TAMU Ke Pecinan Melainkan Sebagai PENGAMEN

Wajah yang tidak asing lagi bagi pedagang-pedagang di pecinan, pertama-tama mereka senyum melihat kedatangan kami. Tapi ternyata semakin sering kami setor muka ditempat kumpulan orang-orang Cina itu. Tamu-tamu itu terhibur dengan suara kami yang berlogat berat keras dan terdengar semangat-semangat teruntai diliric-lirik lagu. Mereka terhibur dan tertawa dengan hal yang jarang mereka dengar, tetapi yang kami butuhkan hanyalah satu yakni selembar apresiasi dari kantong mereka. Tak malu-malu kami mengatakan horas, sehingga mereka bertanya tanya orang apa yah???? Kebersamaan  kami menjadi semakin solid jika melakukannya berulang-ulang dan penuh semangat. Berapapun yang didapatkan dari hasil ngamen kami selalu bersukur dan tidak pernah ada kata sungut yang kami bawa pulang dari Pecinan. Tampa disadari Pecinan membantu dalam menjalankan organisasi yang kami ikuti yakni organisasi PARHATA. Meskipun kami bukan sebagai tamu melainkan sebagai pengamen kami tetap enjoy.
By: sandi Suroyoco Sinambela

Monday, 26 March 2012

Together has power, don’t run alone


Kata-kata ini mengusik telingaku bahkan tertancap di bagian lubuk hati yang paling dalam. Aku membaca kata-kata ini dan meresapinya saat itu aku termenung sendirian di dan merasa sangat konyol jika aku melakukan sesuatu hal hanya sendirian. Aku berpikir bahwa jika aku yang mengerjakannya sendiri maka itu akan menyenangkan hati, merupakan kepuasan tersendiri yang tiada tandingannya namun itu cuma pemikiran ku. Aku seorang yang sgois ternyata. Bersama adalah solusi menghilangkan ke individualime itu dan merupakan  kekuatan yang tiada tanding. Satu lidi akan patah dengan sangat mudahnya tetapi jika banyak maka akan sangat kokoh. Menyedihkan sekali jika aku sendiri dan menyelesaikan semua permasalahanku tampa melibatkan orang lain. Keegoisan akan sedikit demi sedikit merasuki hidup ku jika aku selalu berjalan sendiri. So jauhi prinsip bahwa yang pemenang adalah individu,, BUKAN!!!
by: sandi suroyoco sinambela

Sunday, 18 March 2012

on ma tarombo ni keluarga Buka Sinambela Br. Manik


I.                   SIRAJA BATAK
II.                Guru Tatea Bulan
III.             Raja Isombaon
Ø  Nai Ambaton
Ø  Nai Rasaon
Ø  Tuan Sorimangaraja
IV.             Tuan Sorimangaraja
V.                Tuan Sorbanibanua
Ø  Sibagotni Pohan
Ø  Sipaet Tua
Ø  Silahi sabungan
Ø  Siraja Oloan
Ø  R. Sihuta lima
Ø  Sumba
Ø  R. Sobu
Ø  Naipospos
VI.             Siraja Oloan
Ø  Naibaho
Ø  Sihotang
Ø  Bakkara
Ø   Sinambela
Ø  Sihite
Ø  Manullang
VII.          Sinambela
Ø  Pareme/Tuan Nabolas
Ø  Tuan Nabolas/pareme
Ø  Bonani onan
VIII.       Bonani Onan
IX.             R. RAJA MANGUNTAL                        (Sisingamangaraja I)
X.                R. Tinaruan                                   (Sisingamangaraja II)
XI.             R. Itubungna                                 (Sisingamangaraja III)
XII.          R. Tuansorimangaraja                   (Sisingamangaraja IV)
R. Tuan sorimangaraja
Ø  R. Batuholing
Ø  R. Parlogos                                    (Sisingamangaraja V)
XIII.       R. Batuholing + br situmorang                 (A. Parlindungan)
Ø  O.R. Parlindungan                                    (Matiti)
Ø  O. Togabatu
XIV.       O. Togabatu
Ø  O.R. Unur/R. Pandapotan           
Ø  Dugurnihuta
XV.          O.R. Unur +br. Sipahutar (lobusikkam) +br situmorang (Porsea) 
Ø  O. Sumatangga
Ø  O. Gumara
Ø  O. Pantampun
XVI.       O. Sumatangga
Ø  O. Angur
Ø  O. Untur
Ø  O.  Abor
Ø  O. Parbunga                                  (di parbubu)
XVII.    O. Abor  + Br Pardede                             (A. Kobos)
Ø  O. Siangin
Ø  Bontis                                            (????????)
XVIII. O. Siangin                                                 (A. Kobos/A. Turi)
Ø  O. Paimin                                      (Turi)
Ø  R. Salomo                                     (Pangadang/O. Duaksa)
Ø  O. Manaek                                                (A. Kasi di Lumban Raja Bakara)
Ø  Mallo                                             (????????)
XIX.       R. Salomo   + Br Simanungkalit,  Br Lumban Gaol
Ø  Humeri                                          (O. Mangiring)
Ø  R. Thomas                                     (A. Joab/O. Manurgas)
Ø  Dikkodemus                                  (O. Mariduk)
XX.          R. Thomas   + A. Br Sipahutar( boruni O. Binsar)
Ø  Joab                                               (O. Panca)
Ø  Bonauli                                          (O. Bonggal)
XXI.       O. Panca   +  E. Br Hutasoit
Ø  Manurgas Hatorusan   + Br Simanjuntak
Ø  Buka      +  Br Manik
Ø  Manses    + Br hutasoit
XXII.    Buka
Ø  Bosar BE               (A. Biko + Br Togatorop)
Brian Sinambela (Biko)
Ø  Sarmo                    (A. Roman  + Br siregar)
Roman Dirga Sinambela
Ø  Suanro
Ø  Sandi Suroyoco (saya)
Ø  Sarmanto


Nb: nomor XVI (enambelas) ma au sian sinambela

Thursday, 15 March 2012

ptpk sandi

 Hasil Praktikum Evaluasi
 1. Analisa Bahan Kering Pakan Rumput Lapangan = 20,58% Bekatul = 90,18 %
 Berdasarkan hasil praktikum analisis bahan kering pakan diperoleh hasil seperti BK rumput lapang sebesar 20,58%, BK bekatul 90,18%. Rumput lapangan, dan bekatul, memiliki kadar BK yang sangat baik untuk pakan ternak karena berada di atas standar BK yaitu rumput lapangan sebesar 23%, bekatul sebesar 86%. Kandungan BK rumput lapangan yang berada di bawah standarnya ini disebabkan oleh nutrisi dalam tanah dan umur ketika pemotongan. Kandungan BK bekatul yang berada di atas standarnya ini disebabkan oleh kandungan air yang ada pada bekatul tersebut. Kebutuhan pakan domba secara kuantitatif dinyatakan dengan kebutuhan bahan kering (BK). Konsumsi BK dipengaruhi oleh bangsa, jenis ternak, umur, palatabilitas pakan dan kondisi ternak. Kebutuhan BK domba yang digemukan dengan bobot badan 15-20 kg adalah 5% BB (Purbowati, 2009). Kandungan BK bekatul sebesar 89,97% dengan kandungan nutrisi dalam 100% BK adalah 14,41% PK, 17,72% abu, 17,48% SK, 8,19% LK, 42,20% BETN dan kecernaan nutriennya 7,67% perbedaan nilai–nilai komposisi nutrient bahan pakan disebabkan karena perbedaan lokasi tempat penanaman yang berhubungan dengan ketersediaan N di dalam tanah (Farida, 1998). Rumput lapangan memiliki BK 23% LK 2,2% SK 35,7%, BETN 41,7% TDN 13% PK 12,2%. Bekatul memiliki BK 86%. (Chalimi, 2009). 
 2. Pertumbuhan dan Perkembangan Bobot Awal : 18,25 kg Bobot Akhir : 17,01 kg PBBH : -0,164 Berdasarkan hasil pengamatan, pertumbuhan dan perkembangan domba dalam waktu 7 hari dengan bobot awal 17,35 kg dan bobot akhir 20 kg menghasilkan PBBH sebesar 0,37 atau mengalami kenaikan berat badan sebesar 3 kg. Standar PBBH domba adalah sebesar 42,7 gr. Hal ini terjadi karena dalam pemberian hijauan dan konsentrat pada domba terkontrol dengan baik dan domba dalam keadaan sehat dan sedang mengalami kebuntingan, sehingga energi yang diperoleh dalam tubuh domba optimum untuk pertambahan bobot badannya. Faktor yang mempengaruhi PBBH diantaranya jenis kelamin, umur dan jenis domba. jenis kelamin betina, pertumbuhan bobot badan akan cepat dari lahir sampai kepubertas, kemudian saat dewasa tubuh maka pertumbuhannya akan berkurang. Jenis domba yang dipelihara adalah domba ekor gemuk. Menurut pendapat Rianto et al. (2004) yang menyatakan bahwa peningkatan konsumsi BK dan PK, kecernaan dan metabolisme protein mengakibatkan peningkatan jumlah protein yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan jaringan tubuh ternak yang nantinya dapat digunakan untuk peningkatan bobot badan ternak. Pakan (terutama bentuk pakan), konsumsi pakan dan kandungan nutrisi sangat mempengaruhi PBBH, sehingga dapat diperoleh rata-rata PBBH domba per harinya adalah sebesar 42,7gr (Tarmidi, 2004). Faktor yang mempengaruhi PBBH yaitu jenis domba, jenis kelamin, umur, dan penampilan fisik (Siregar, 2008). 
 3. Pengamatan Fisiologi Ternak Suhu Rektal = 38,7°C Denyut Nadi = 70 kali/menit Frekuensi Nafas = 43 kali/menit Berdasarkan pengamatan fisiologi ternak bahwa suhu rektal domba yang diperoleh sebesar 38,7°C. Suhu rektal diukur dengan cara memasukkan termometer kedalam rektal ternak secara perlahan-lahan hingga suhu konstan. Pengukuran suhu rektal bertujuan untuk mengetahui kondisi fisiologis domba. Suhu rektal domba tersebut berada di bawah / kurang dari suhu normal namun selisihnya dengan standar masih dekat yakni 0,2oC normalnya yaitu antara 38,9°C-40°C. Denyut nadi sebanyak 70 kali/menit. Standar denyut nadi pada domba adalah 70-90. Hal tersebut menandakan karena domba dalam keadaan normal. Sedangkan frekuensi nafas sebanyak 43 kali/menit di atas normal yaitu 20-30 kali/menit. Hal ini disebabkan oleh tingkat aktivitas domba dan keadaan lingkungan kandang yang kurang mendukung sehingga mengakibatkan domba memiliki frekuensi nafas yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi fisiologi ternak diantaranya suhu udara, kelembaban udara, dan kondisi ternak itu sendiri dan perlakuan yang dilakukan pada ternak saat melakukan aktifitas pengukuran nafas tersebut. Suhu rektal pada ternak potong sehat terutama pada domba yaitu 102°F (39,06°C) (Farida, 1998). Suhu rektal domba berkisar antara 38.9°C-40°C, denyut nadi 70-90, dan frekuensi nafas 20-30. Faktor yang mempengaruhi suhu rektal, frekuensi nafas dan denyut nadi yaitu tingkat aktifitas dan keadaan lingkungan ternak (Murtidjo, 1993). 
 4. Pengamatan Fisiologi Lingkungan Mikroklimat Waktu Suhu (oC) Rh (%) 06.00 26,6 82 12.00 33 48,4 18.00 28,6 66,7 21.00 26’9 80,9 Rata-rata 28,75 69,5 Makroklimat Waktu Suhu (oC) Rh (%) 06.00 23,7 81,7 12.00 32,3 50 18.00 25,6 73,4 21.00 24 83,6 Rata-rata 26,3 72,17 Berdasarkan pengamatan fisiologi lingkungan diperoleh hasil rata-rata seperti suhu kandang (Mikroklimat) sebesar 28,75°C dan kelembaban udaranya sekitar 69,5%. Sedangkan suhu diluar kandang (Makroklimat) sebesar 26,3°C dan kelembaban udaranya sekitar 72,17%. Hasil suhu dan kelembaban dari dua tempat tersebut sesuai dengan suhu dan kelembaban yang nyaman pada domba dewasa yang berkisar antara 19-35°C dan 60-80%. Suhu dan kelembaban udara merupakan faktor yang penting dari iklim karena besar pengaruhnya terhadap kondisi fisiologis dan produktifitas ternak. Keadaan suhu lingkungan dan kelembaban berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan karena berkaitan dengan metabolisme. Umumya pada suhu yang nyaman laju konsumsi pakan pada ternak akan meningkat karena cenderung energi hanya diperlukan untuk proses metabolisme. Apabila suhu lingkungan tinggi maka ternak cenderung untuk mengkonsumsi air lebih banyak untuk proses homeostasis, apabila hal tersebut berlanjut maka tingkat konsumsi akan menurun dan menghambat produksi, khususnya untuk produksi daging. Suhu nyaman pada ternak domba anakan berkisar 24-26oC, pada domba dewasa 19-35oC (Hanafi, 2004). Kelembaban nyaman pada ternak domba berkisar 60-80% (Frandson, 1986). Iklim makro maupun iklim mikro dapat berpengaruh langsung terhadap penampilan produktivitas ternak. Pengaruh tidak langsung adalah ketersediaan hijauan pakan ternak yang cepat tua menyebabkan tingginya serat kasar, sedangkan penganah langsungnya adalah terjadinya stress panas atau dingin, sehingga ternak menderita stress atau ternak merasa tidak nyaman yang berakibat terhadap penurunan produksi dan reproduksi ternak (Murtidjo, 1993). Pada keadaan suhu lingkungan yang lebih tinggi dari yang dibutuhkan, nafsu makan akan menurun dan konsumsi air meningkat. Akibatnya, otot-otot daging lambat membesar dan daya tahan tubuh pun menurun (Suparman, 2001). 

 5. Konversi Pakan PBBH = -0.164 Konsumsi Total BK = 0,23 Konversi Pakan = -4,024 Berdasarkan hasil praktikum, konversi pakan dapat dihitung melalui penenaikan bobot badan sebesar 0,37 kg/hari dan konsumsi total BK 0,6035 kgBK. Konversi pakan adalah 1,63. Hal ini mennunjukkan bahwa pemberian bahan pakan yang diberikan untuk rumput lapangan dan bekatulnya tercerna dengan baik, serat kasar dan kandungan nutrisi, tetapi belum memenuhi standart karena BK dan SK rumput lapang yang tinggi. Pakan yang dikonsumsi tidak sebanding dengan bobot badan yang seharusnya bertambah pada domba. Faktor yang dapat mempengaruhi konversi pakan adalah bentuk pakan ternak, strain, kandungan nutrisi ransum, jenis kelamin serta suhu. Standar konversi pakan yang baik adalah 5 - 6,5 Faktor lain yang mempengaruhi konversi pakan yaitu: bentuk pakan ternak, strain, kandungan nutrisi ransum, jenis kelamin serta suhu. Suhu yang terlalu tinggi mengakibatkan konversi pakan meningkat, begitu juga pada suhu yang terlalu rendah (Anggorodi, 1979). Konversi pakan khususnya pada ternak ruminansia dipengaruhi oleh kualitas pakan, pertambahan bobot badan dan nilai kecernaan. Memberikan kualitas pakan yang baik kepada ternak pertumbuhannya akan lebih cepat dan lebih baik konversi pakannya (Hartadi, 1997). Konversi pakan yang baik yaitu 5 – 6,5 (Rasyaf, 1992).

 6. Efisiensi Pakan PBBH = - Konsumsi Total BK = 0,66 Efisiensi Pakan = -24,85% Berdasarkan hasil praktikum bahwa efisiensi pakan dapat dihitung karena terjadi kenaikan bobot badan sebesar 0,37 kg/hari. Perbandingan jumlah unit produk yang dihasilkan sebanding dengan jumlah unit konsumsi hijauan dan konsentrat yang dikonsumsi sehingga efisiensi pakannya dapat dihitung karena PBBH yang dihasilkan mengalami peningkatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pakan adalah bahan pakan, palatabilitas, kandungan nutrien, dan daya cerna. Efisienfi pakan berdasarkan praktikum mendapat hasil yang sangat tinggi yaitu 61,3% itu disebabkan karena ternak tersebut dalam keadaan bunting. Standar efisiensi pakan yang baik adalah 13%. Hartadi (1997) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi daya cerna adalah palatabilitas, daya cerna, kandungan nutrien, bahan pakan yang diberikan. Efisiensi untuk pakan yang ada sekitar 13% (Purbowati, 2009). Menurut Farida (1998) menyatakan bahwa efisiensi pakan menurun pada suhu di atas optimum. 

7. Daya Cerna Total BK Feses Konsumsi Total BK = 0,66 Hasil Daya Cerna = 55% Berdasarkan hasil praktikum mengenai daya cerna diperoleh hasil daya cerna pakan sebesar 70,2%. Artinya dari 0,6035 kg BK pakan yang dikonsumsi adalah 70,2% dapat tercerna, selebihnya terbuang dalam bentuk feses. Hasil daya cerna yang diperoleh lebih rendah dari hasil standar daya cerna yaitu 75%. Daya cerna yang didapat hampir mencapai standar yang telah di tentukan, tetapi masih belum memenuhi. Hal ini kemungkinan diakibatkan oleh perbedaan jenis bahan pakan yang diberikan pada ternak. Serat kasar memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap daya cerna pakan. Semakin tinggi kandungan serat kasar pada bahan pakan maka semakin rendah daya cerna bahan pakan tersebut. Pakan hijauan (rumput) kering dapat membuat daya cerna menurun akibat kadar serat kasarnya yang tinggi (Suparman, 2001). Daya cerna BK sekitar 75% (Sudarmono, 2007). Pemanfaatan energi pakan oleh ternak untuk berproduksi dipengaruhi oleh imbangan protein-energi pakan. Energi yang keluar sebagai feses yaitu antara 45 – 50% dari total konsumsi energi (Farida, 1998). Rianto et al. (2004) menambahkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi daya cerna adalah komposisi kimiawi (khususnya serat kasar), pengolahan makanan, jumlah makanan yang diberikan, jenis ternak. 

8. Feed Cost per Gain Harga Hijauan = Rp. 400,-/kg Harga Bekatul = Rp. 2700,-/kg Hasilnya = Rp. -6.600,-/kg Berdasarkan hasil praktikum bahwa feed cost per gain yang didapatkan sebesar Rp. 2824,97,-/kg. Artinya untuk meningkatkan bobot badan 0,37 kg diperlukan biaya 2824,97,-. Hal tersebut karena PBBH yang didapatkan mengalami peningkatan yang tinggi sehingga berpengaruh pada biaya untuk memenuhi kebutuhan pun menjadi lebih rendah dan sebanding dengan produktivitas yang dihasilkan. Untuk meminimalisirkan biaya yang dikeluarkan maka perlu memilih bahan pakan yang memiliki harga rendah dengan kualitas pakan yang baik. Nilai feed cost per gain (FC/G) dihitung berdasarkan biaya pakan pada saat pemeliharaan berlangsung dan PBBH yang dihasilkan (Purbowati et al., 2009). Feed cost per gain dihitung berdasarkan biaya pakan pada saat penelitian berlangsung saat PBBH dihasilkan (Tarmidi, 2004). 

9. Evaluasi Perkandangan Tipe kandang = Kandang Panggung. Model kandang = Kandang Individu Kandang yang digunakan yaitu kandang individu dan bertipe kandang panggung. Kandang batere digunakan untuk menempatkan domba secara individu sedangkan kandang koloni digunakan untuk menempatkan domba secara berkelompok. Kandang yang baik akan memberikan kenyamanan dan membuat ternak sehat dan bersih. Kandang tipe panggung cukup baik untuk ternak domba, karena memudahkan proses sanitasi. Kandang individu berisi 1 ekor domba dengan ukuran 0,75 x 1 m. Standar kandang individu untuk penggemukan membutuhkan luas kandang 0,75 x 1 m, karena memberikan ruang gerak yang sedikit memberikan pergerakan yang sedikit sehingga mengefisiensi energi didalam tubuh. Atap kandang terbuat dari asbes, yang merupakan bahan yang dapat menyerap panas. Lantai kandang domba terbuat dari kayu yang diberi jarak sekitar 1 - 2 cm bertujuan agar kotoran bisa langsung jatuh ke bawah. Tempat pakan terbuat dari kayu yang dilapisi dengan plastik, tujuannya yaitu agar pakan tidak jatuh ke bawah dan terbuang. Selokan pada kandang domba baik koloni maupun individu kurang efektif karena kecil, dan ditambah lagi jika ada sisa pakan yang menyumbat maka air tidak dapat mengalir dengan lancar. Sirkulasi pada kandang invidu maupun koloni cukup baik karena mempunyai banyak ventilasi udara. Fasilitas yang ada didalam kandang adalah atap, penyangga samping, dinding kayu, tiang beton, kran air, penampungan limbah,tangga semen, tempat pakan dan minum, kandang sampel uji, selokan, kandang koloni, dan kandang individu. Kandang sangat diperlukan dalam pemeliharaan domba baik secara ekstensif, semi-intensif, dan intensif. Kandang panggung adalah kandang yang dibangun seperti rumah panggung (Hanafi, 2004). Penempatan domba dalam kandang ada 2 model perkandangan, yaitu kandang koloni dan kandang batere. Ukuran kandang koloni 2,5 x 1 m untuk 6 - 8 ekor domba. Untuk kandang individu induk membutuhkan luas kandang 1 x 1 m, bagian kandang induk dan anaknya memerlukan luas 1,5 m, dan 0,75 x 1 m dan untuk kandang pejantan membutuhkan luas kandang 2 x 1,5m (Murtidjo, 1993) Pembuatan kandang seharusnya memperhatikan beberapa hal diantaranya yaitu biologis ternak, dimana tiap-tiap ternak memiliki berbagai sistem perkandangan. Selain itu yang harus diperhatikan adalah letak kandang, arah kandang, atap, ventilasi, lantai kandang, kolong, saluran pembuangan kotoran, jalan kandang, gudang pakan, serta sarana dan prasarana kandang (Purbowati, 2009). Sodiq dan Abidin (2008) menyatakan bahwa kandang domba memiliki beberapa fungsi sebagai tempat untuk istirahat, tempat berlindung dari panasnya matahari pada musim kemarau dan hujan pada musim penghujan, untuk mempermudah pengecekan pakan dan minum. 

10. Carrying Capacity Produksi Lahan per tahun 583.000 kg/tahun. Produksi Lahan per hari 1597,808 kg/hari. Produksi per hari dalam BK 328,82 kg/hari Hasil CC 471 ekor domba dengan bobot rata-rata 17,4375 kg. Carrying capacity merupakan kemampuan lahan untuk memenuhi kebutuhan hijauan pakan dalam suatu lahan tanpa mengubah atau mengurangi luas lahan. Produksi lahan selama satu tahun sebanyak 538.000 kg/tahun, sedangkan produksi lahan per hari 1597,808 kg/hari dengan lahan seluas 4,5 ha dapat menampung dan memenuhi kebutuhan pakan domba dewasa sebanyak 471 ekor domba dengan bobot rata-rata 17,4375 kg. Kapasitas tampung (Carrying Capacity) adalah jumlah hijauan makanan ternak yang dapat disediakan oleh padang penggembalaan untuk kebutuhan ternak selama 1 tahun yang dinyatakan dalam satuan ternak per hektar (Chalimi, 2009). Kemampuan lingkungan mempunyai batasan sehingga apabila keadaan lingkungan berubah maka daya dukung lingkungan juga berubah. Hal ini karena daya dukung lingkungan dipengaruhi oleh faktor pembatas, seperti: cuaca, iklim, pembakaran, banjir, gempa, dan kegiatan manusia (Suparman, 2001). LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Analisis Bahan Kering Pakan Tabel 1. Analisis Kadar BK Rumput Lapangan Loyang Berat Loyang (g) Berat Hijauan sebelum dioven (g) Berat loyang + sampel setelah dioven (g) 1 32,344 10,001 34.430 2 33,877 10,002 35.920 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011. BK Pakan = BK Rumput lapangan 1 = = 20,85% BK Rumput lapangan 2 = = 20,32% BK rata-rata = = 20,58% Lampiran 1. Perhitungan Analisis Bahan Kering Pakan (lanjutan) Tabel 2. Analisis Kadar BK Bekatul Loyang Berat Loyang (g) Berat Konsentrat sebelum dioven (g) Berat loyang + sampel setelah dioven (g) 1 6,669 10,009 15,703 2 6,773 10,003 15,788 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011. BK Pakan = BK Bekatul 1 = = 90,25% BK Bekatul 2 = = 90,12% BK rata-rata = = 90,18 % Lampiran 2. Kebutuhan Pakan Bobot awal domba = 17,35 kg PBBH target = 0,025 kg/hari BB tujuan = BB awal + (PBBH x lama pemeliharaan) = 17,35 +( 0,025 x 7 ) = 17,525 kg Bobot Rata-rata domba = BB awal + BB tujuan 2 = 17,35 + 17,525 2 = 17,4375 kg Kebutuhan BK Pakan = 4% x BB rata-rata domba = 4% x 17,4375 = 0,6975 kgBK Perbandingan RL : Bekatul : = 60%:40% Kebutuhan BK Rumput Lapangan = 60% x kebutuhan BK = 60% x 0,6975 kg = 0,4185 kg BK Kebutuhan BS Rumput Lapangan = = 2,0335 kg BS Kebutuhan BK bekatul = 40% x 0,6975 kg = 0,279 kg BK Kebutuhan BS bekatul dalam = = 0,3093 kg BS Lampiran 3. Tabel Perhitungan Konsumsi Pakan Tabel 4. Konsumsi Pakan Tanggal Pemberian (kg) Sisa pakan (kg) Konsumsi (kg) Hijauan Konsentrat Hijauan Konsentrat Hijauan Konsentrat 27 November 2011 2,033 0,309 0,50 0,183 1,53 0,126 28 November 2011 2,033 0,309 0,50 0,093 1,53 0,216 29 November 2011 2,033 0,309 0,1 - 1,93 0,309 30 November 2011 2,033 0,309 0,08 - 1,95 0,309 1 Desember 2011 2,033 0,309 - - 2,033 0,309 2 Desember 2011 2,033 0,309 0,6 0,128 1,43 0,181 3 Desember 2011 2,033 0,309 0,1 - 1,93 0,309 Rata-rata 2,033 0,309 0,62 0,0577 1,835 0,2512 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011. PBBH = 0,37 kg/hari Konsumsi Hijauan BS = 1,83 kg BS Konsumsi BK Hijauan = = = 0,37 kg BK Konsumsi Konsentrat BS = 0,25 kg BS Konsumsi BK Konsentrat = = = 0,22 kg BK Konsumsi BK total = Konsumsi Bk hijauan + Konsumsi BK bekatul = 0,22+ 0,37 = 0,60 kg BK Lampiran 4. Perhitungan Bobot Badan Harian (PBBH) Bobot badan awal = 17,35 kg Bobot badan akhir = 20 kg Lama pemeliharaan = 7 hari PBBH = = = 0,37 kg/hari Lampiran 5. Evaluasi Pakan Perhitungan dengan Rumus Interpolasi Bobot badan awal = 17,35 kg Bobot Akhir = 20 kg PBBH = 0,37 kg/hari BB Rata-rata = 18,67 kg Tabel 5. Tabel Kebutuhan Pakan BB (kg) PBBH (kg) BK (kg) 15 0,37 0,73 18,67 0,37 X 20 0,37 0,97 Sumber: Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries (Kearl, 1982). BB rata-rata = = = 18,67 kg X15 = = = - 0,17 = 0,56 - X X = 0,73 Lampiran 5. Evaluasi Pakan (lanjutan) X20 = = = -0,26 = 0,71 – X X = 0,97 kgBK X = = = 0,063 = 0,97 – X X = 0,90 kgBK Konsumsi BK total = 0,60 kg BK Kebutuhan BK menurut Interpolasi = 0,90 kg BK Kecukupan BK = 0,60-0,90 = - 0,3 kg BK Artinya = telah terjadi kekurangan konsumsi BK sebesar – 0, 3 kg BK. Jika konsumsi lebih besar dari kebutuhan dan bobot badan akhir naik berarti bagus Lampiran 6. Perhitungan Konversi Pakan Konsumsi BK Total = 0,6035 kgBK PBBH = 0,37 kg/hari Konversi Pakan = = = 1,63 Lampiran 7. Perhitungan Efisiensi Pakan PBBH = 0,37 kg/hari Konsumsi BK total = 0,6035 kgBK Efisiensi pakan = = = 61,3% Lampiran 8. Perhitungan BK Feses Berat feses total (koloni) : 267 gram Tabel 6. Analisis BK feses Loyang Berat Loyang (g) Berat Feses sebelum dioven (g) Berat loyang + sampel setelah dioven (g) 1 6,427 10,000 12,936 2 6,696 10,006 13,201 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011. BK feses = BK feses 1 = = 65,9 % BK feses 2 = = 65,1 % BK rata-rata = = 65,05 % Total BK Feses = 65,05% x 0,267 = 0,1736 kg Lampiran 9. Perhitungan Daya Cerna Total BK feses = 0,1736 kgBK Konsumsi BK total = 0,6035 kgBK Daya cerna = = 71,23% Lampiran 10. Perhitungan Feed Cost Per Gain Harga hijauan = Rp. 200,-/kg Harga konsentrat = Rp. 2700,-/kg Konsumsi hijauan segar = 1,835 kg Konsumsi konsentrat segar = 0,2512 kg PBBH = 0,37 kg Feed cost per gain = = = = Rp. 2824,97-/kg = Rp. 2824,97-/kg BB/hari Lampiran 11. Fisiologi Ternak Tabel 7. Pengukuran Suhu Rektal Ternak Tanggal Jam Pengukuran Suhu Rektal (oC) Rata-rata 2 Desember 2011 06.00 1 38,8 38,5 2 38,2 12.00 1 39,5 39,25 2 39,0 18.00 1 39,5 39,45 2 39,4 24.00 1 38,8 38,45 2 38,1 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011. Tabel 8. Pengukuran Frekuensi Nafas Ternak Tanggal Jam Pengukuran Frekuensi nafas (kali/menit) Rata-rata 2 Desember 2011 06.00 1 20 20 2 21 12.00 1 58 59 2 60 18.00 1 54 51 2 48 24.00 1 45 43 2 41 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011. Lampiran 11. Fisiologi Ternak (lanjutan) Tabel 9. Pengukuran denyut nadi ternak Tanggal Jam Pengukuran Denyut nadi (kali/menit) Rata-rata 2 Desember 2011 06.00 1 81 79,5 2 78 12.00 1 92 98,5 2 105 18.00 1 98 98,5 2 99 24.00 1 106 104,5 2 103 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011. Lampiran 12. Fisiologi Lingkungan Ternak Tabel 10. Pengukuran Suhu dan Kelembaban Tanggal Waktu Mikroklimat Makroklimat Suhu (oC) Rh (%) Suhu (oC) Rh (%) 27 November 2011 06.00 28 91 25 78 12.00 35 55 34 45 18.00 31 72 28 70 21.00 29 95 25 85 28 November 2011 06.00 28 96 24 85 12.00 34 60 34 51 18.00 25 99 22 86 21.00 24 100 22 89 29 November 2011 06.00 26 100 22 86 12.00 31 65 30 56 18.00 28 93 24 85 21.00 27 96 24 84 30 November 2011 06.00 26 97 23 83 12.00 32 43 31 54 18.00 28 95 24 96 21.00 24 96 24 84 1 Desember 2011 06.00 26 91 23 78 12.00 33 60 32 54 18.00 29 79 26 76 21.00 29 85 25 80 2 Desember 2011 06.00 26 99 28 79 12.00 34 56 34 44 18.00 30 29 28 25 21.00 26 94 24 81 3 Desember 2011 06.00 26 97 23 83 12.00 32 58 31 45 18.00 29 79 27 76 21.00 27 94 24 82 Rata-rata 28,75 69,5 29,6 68,7 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2011. Lampiran 13. Perhitungan Carrying Capacity Luas lahan = 4,5 ha = 45.000 m2 Sampel I = 2,1 kg/ m2 Sampel II = 2,6 kg/ m2 Sampel III = 1,8 kg/ m2 Berat sampel rata-rata = 2,16 kg/ m2 Produksi lahan = berat sampel rata-rata x luas lahan = 2,16 x 45.000 = 97200 kg BS Produksi Lahan/tahun = + = + = 437400 + 145800 = 583200 kg/tahun Produksi Lahan/hari (BS) = = = 1597,808 kg BS/hari Produksi. Lahan / hari (BK) = BK rumput lapang x Produksi. Lahan / hari (BS) = 20,58% x 1597,808 = 328,82 kg BK/hari Carrying capacity = = = = 471 ekor domba dengan bobot rata-rata 17,4375kg Lampiran 14. Gambar kandang (tampak depan, samping, belakang, atas) Ilustrasi 1. Kandang tampak depan Ilustrasi 2. Kandang tampak samping Keterangan : Keterangan : Atap 10. Selokan 1. Atap Penyangga Atap Samping 11. Kandang Koloni (Kanan) 2. Tiang Beton Dinding Kayu 12. Kandang Individu (Kiri) 3. Dinding Kayu Tiang Beton 4. Penampungan Feses Kran Air Penampungan Limbah Tangga Semen Tempat Pakan dan Minum Kandang Sampel Uji Ilustrasi 3. Kandang tampak belakang Ilustrasi 4. Kandang tampak atas Keterangan : Keterangan : Atap 10. Selokan 1. Kandang Individu Penyangga Atap Samping 11. Kandang Koloni (Kanan) 2. Tangga Kandang Individu Dinding Kayu 12. Kandang Individu (Kiri) 3. Tempat Pakan Kandang Individu Tiang Beton 4. Kandang Koloni Kran Air 5. Tangga Kandang Koloni Penampungan Limbah 6. Tempat Pakan Kandang Koloni Tangga Semen 7. Kandang Sampel Uji Tempat Pakan dan Minum Kandang Sampel Uji Lampiran 15. Denah perkandangan Ilustrasi 5. Denah perkandangan Keterangan : Kandang Domba Koloni F. PKM Kandang Domba Individu G. Kandang Domba MES / Gudang P. Parkiran Kandang Sapi Gudang Pakan