Wednesday, 11 July 2012

rusa doyan daun cabe rawit


Siapa Sangka Rusa Doyan Daun Cabe Rawit
Oleh: Sandi Suroyoco Sinambela.


Rusa yang disebut-sebut dengan hewan liar ini ternyata tidak mau ketinggalan rasa, dan menyimpan rahasia yang patut kita telusuri. Pikiran kita memang tidak dapat mengetahui secara umum mengapa rusa ini sangat tertarik pada daun cabe tersebut. Kasus ini terjadi berkali-kali di sebuah desa terpencil di Sipoholon, Tapanuli Utara Medan dan daerah dan di daerah hutan yang berderet dengan Bukit Barisan.
Sudah lama warga pedesaan dibuat resah oleh rusa ini karena tanaman cabe rawit petani dimakani. Kasus ini menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat  memburu hewan malang ini.
Pakan yang lazim di makan rusa adalah dedaunan yang berada di dalam hutan seperti pacing, kaliandra, rumput pait, sadagori, aawian, babadotan, jomorak, bayondah, goletrak, rane, jukut bau, rumput ilat, dan ilalang, tapi kali ini beberbeda kasus menarik di desa kecil rusa doyan makan daun cabe rawit.

Daun cabe memang merupakan pakan tidak lazim karena banyak faktor yang harus di pertimbangkan dalam penggunaannya sebagai pakan rusa. Daun cabe tidak memenuhi kriteria pakan,  karena ketersediaannya  tidak berkelanjutan.  Ekonomis yang bertolak belakang yang berarti terlalu mahal jika di jadikan sebagai pakan.

Kandungan nutrisi dari daun cabe termasuk tinggi, disamping  itu faktanya daun cabe memiliki tingkat palatabilitas (tingkat kesukaan) yang tinggi.

            Secara teori kasus ini dapat kita pecahkan. Pertama kita harus melihat kebiasaan rusa, rusa termasuk hewan yang cara makannya secara browsing (memilih dedaunan) Kebiasaan browssing dengan mencari dedaunan muda sangat menguntungkan bagi rusa untuk pemenuhan nutrisi yang di butuhkan oleh tubuh rusa, tetapi kadang-kadang melakukan grassing (merumput seperti sapi) ini menunjukkan karena kebutuhan protein rusa termasuk tinggi, sehingga ketemu daun cabe rawit hewan ini memakannya. Dari sudut pandang yang berbeda  membuktikan  juga bahwa persediaan pakan hewan liar ini di hutan sudah mulai menipis. Sehingga rusa harus mendatangi kebun dan ladang para warga untuk mencari makanan.







Penulis adalah mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang
Nama   : Sandi Suroyoco Sinambela
Nim     : 23010110110031
Hp       :  081263545630


INTIP

INTIP
INTIP

Mengintip lewat celah kecil
Mengintip lubang jarum peniti
Hanya untuk mengungkap benang merah.

Secuil kata tujukan kepada KPK, harus jelih dan bersifat tajam pada siapapun yang menjadi sasaran. Jangan pernah tumpul dengan penguasa yang memang terbukti. Kalau anda tidak mampu mengusut berarti anda patah atau hilang.
Jarum yang hilang tampa ekor tidak akan pernah lagi kami ingat untuk mencarinya.
Anda berbayaha saat tercecer bisa saja menusuk sana sini. Tertancap pada jalur hukum adalah pola sebagai dasar


Kejar Rusa masuk kandang PHKA (Dephut) menahan


DIRJENAK  Kejar Rusa  masuk kandang   PHKA (Dephut) menahan.
Oleh: Sandi Suroyoco Sinambela.

Tidak Sepahaman Dirjen PHKA (Dephut) dengan Dirjen Peternakan (Deptan) Dalam Mengkomersialkan Rusa Sebagai Ternak.
Rusa si tabiat liar dikejar-kejar oleh DIRJENAK agar dapat dijadikan sebagai hewan ternak lantaran  memiliki potensi ekonomis. Rusa dapat menghasilkan daging, kulit, dan velvet (tanduk muda).  Domestikasi rusa   konservasi memang mulai berkembang di dunia. Dirjen peternakan berusaha  mengkomersialkan rusa menjadi ternak potong, namun belum ada sinkronisasi antara PP. No. 8 /1999 dengan SK. Mentan No. 404/Kpts/OT210/06/2002 tentang pemanfaatan rusa pada generasi F-2 terkendala oleh sulitnya penandaan.
Pemanfaatan rusa dalam berbagai kepentingan terutama dalam pemanfaatan daging untuk kebutuhan protein hewani. Disamping itu potensi rusa dalam biomedis, dan sebagai hewan wisata patut kita kembangkan. Kita disadarkan bahwa penting sekali  rusa  untuk diproduktifkan secara berkesinambungan. Komoditi unggulan rusa  dapat  berupa daging, rangga tua, rangga muda, dan kulinya tidak bisa lagi dilirik sebelah mata. Tanduk muda (velvet) yang sudah di keringkan harganya dapat mencapai US $ 120 per kg. Sangat menggiurkan bukan?
Bagai mana jika rusa secara intensif di ternakkan? Perkembangan rusa secara komersial memang menimbulkan perdebatan antara dirjenak dengan konservasi satwa liar. Pertama menganggap bahwa rusa termasuk golongan satwa langka yang harus di  lindungi sehingga apabila dilakukan pengembangan rusa secara komersial akan mengalami kepunahan. Ahli ekologi menyebutkan bahwa satwa langka yang harus dilindungi dan merupakan barang publik adalah  mekanisme yang  gagal. Rideout dan Hasselen menyatakan bahwa pemerintah adalah yang terbaik dalam mengelola satwa langka untuk menjaga kepunahannya. Sementara kelompok kedua justru sebaliknya bahwa rusa memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga apabila di kembangkan secara komersial akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan justru akan memperkecil kemungkinan terjadinya kepunahan
Memang konservasi dan komersial ada masing-masing keunggulan. Estimasi terhadap usaha pengembangan rusa di Taman Safari II Prigen misalnya, memperlihatkan bahwa keunggulan konservasi dari tenaga kerja dan hasil penjualan tiket. Akan tetapi jika di bandingkan secara keseluruhan ternyata pemeliharaan rusa secara komersial jauh lebih unggul dari konservasi. Waswas selalu menghantui para pelaku konservasi apabila dana yang didapat dari hasil produksi tidak sesuai dengan pemasukan, ditambah lagi konservasi biasanya tergantung pada pemberian dana dari pemerintah.
Negara New Zeland yang telah berhasil mengkomersialkan rusa ternyata ada hal penting yang berada di balik semua itu, Red deer yang telah punah di habitat aslinya dapat terselamatkan dan menjadi devisa yang menjanjikan bagi negara tersebut. Jadi kita tidak bisa langsung menyatakan bahwa pengomersialan rusa sebagai hewan ternak akan gagal.
Sebenarnya jika kita lihat undang-undang peternakan yang melarang pemotongan ternak betina usia produktif. Itu sudah efektif untuk melestarikan regenerasinya. Malah kasus yang kita lihat sekarang adalah perburuan rusa oleh masyarakat yang mengikis populasi rusa dari habitat aslinya. Anehnya sekarang kita hanya menjumpai rusa hanya di kebun binatang itupun akan terkikis habis juga karena dana yang kurang. Hanya di daerah konservasi yang ramai di kunjungi wisata saja konservasi di katakan sukses.
Restoran di Indonesia ternyata tertarik membuka peluang bisnis berupa kuliner daging rusa, tidak kalah juga dengan peminatnya. Daging rusa yang disebut-sebut dengan king’s food ini ternyata sangat diminati oleh kalangan menengah keatas. Restoran tersebut mendapat daging rusa dari luar negri. Nah ini yang seharusnya menjadi permasalahan yang baru. Kita telah memiliki konsumen yang berpotensi besar untuk memajukan prospek ini. Namun kita tidak bisa mengelola bagaimana supaya kita memiliki produsen.
Rusa dapat bertahan hidup selama 15-20 tahun menghasilkan anak 10-12 dengan rasio seks jantan:betina 1:2.  Karkas rusa 56-58% lebih tinggi dari sapi 51-55%. Persentasi protein rusa (rusa timorensis) 24,5% lemak 0,33 kolestrol 74, sedangkan pada sapi 18,3, lemak 18,9 dan kolestrol 95.  Bukankah ini keunggulan yang dapat kita pertimbangkan?
Dirjen peternakan sangat mendukung tentang domestikasi rusa. Bagai mana bisa keberhasilan domestikasi rusa, padahal selama ini hanya dalam konservasi. Konservasi terus terusan hanya akan membuat potensi rusa terkubur saja dan membuat program pendomestikasian jalan di tempat. Lalu apasih yang menjadi solusi atas ke tidak sepahaman ini? Nah pemerintah mesti harus memberikan pemahaman yang sama terhadap  DIRJENAK dan PHKA yang akan mengambil keputusan yang saling menguntungkan dan melibatkan kedua depattemen ini.


Penulis adalah mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang
Nama   : Sandi Suroyoco Sinambela
Nim     : 23010110110031
Hp       :  081263545630

Wednesday, 30 May 2012

Heado ho huhaholongi by sandi s. sinambela


C                       f          g                 
Naujui  ho do sada ngasai solot di
C         em                       dm    
rohaki. Alai dang hea tarbukka ito
g                               c
pintuni holongmi tu au.

Hutanda do takkas songon dia parangem.

 Songon ulini rupami do ulini roham ito.

Rap sapardalanan mulak tu huta hita naujui ito.

Tiap ari do sai tarpaima ima au asa rap hita nian mardalan.

Didalan i gok naeng hucaritahon to ho.

Di las niroha  na mansai balga tutu. 

Naso boe hurimang-rimangi nuaeng songon parhabangni bulung-bulung na malos do parlaokku sian jolom.

Dang tarpasiding au alogo namangullus ito sian ngolukki.

Heado tarsalpu hata tuho namandok.

Naluluanku doho.

Dialusi ho dohot denggan.

Asal  ma toho.

Sai marpikkir do nuaeng au pahusor-hosor hatami sinaujui.

Dung leleng au dao sian ho.

Tong dope nuaeng ho si naujui?

Adong dope nuaeng tumbur ni holong tu au sian roham?

Sai husukkun di bagasan rohakku

Dang tarpasiding au pikkiran hi ito.

Apalagi molo sai hu ingot ekkel mi, dohot parangem.

Hussus songon bunga na umuli. na adong di alaman i.



by: sandi suroyoco sinambela
lirik lagu ini saya buat untuk dia yang ku kagumi sejak lama.
semua indah pada waktunya

Sunday, 20 May 2012

cara memilih induk babi


1.     Seleksi dari babi siap jual  umur 5-7 bulan     

      ( kaki, perut, organ rep, temperamen,pertumbuhan, TLP, FCR)

    2.     Telah divaksin Erysipelas, Leptospirosis parvovirus.

    3.     Kawinkan pada estrus ke 2 dan 3. Lama  114 +/-  4 hari

Penanganan Induk Bunting

  1. Cek induk bunting atau tidak 21 hari kemudian

  2. Cek Ultrasonic 30 hari setelah kawin

  3. Induk Bunting 2 – 3 kg/hari air adlibitum

  4. Induk di vaksin E. Coli, Erysipelas, Leptospirosis, parvovirus.

 

Penanganan Induk Melahirkan

  1. Induk melahirkan 2,5 – 3 jam/litter

  2. Induk tersebut lahir berbaring

  3. Isolasi dari babi lain

  4. Siapkan guard rail/ crate untuk anak tidak tertindih, cold, bedding, penghangat.

  5. Selama melahirkan diawasi trus.

 

Ciri Induk Babi Mau dan telah Melahirkan

  1. Gelisah, sering bangun tidur.

  2. Menggit pintu/batang

  3. Mengorek-ngorek lantai

  4. Membuat sarang bila bahan ada

  5. Adanya colostrum pada puting

  6. Vulva bengkak turun

  7. Keluarnya cairan uterus ketika mau keluar anak pertama

  8. Proses melahirkan 15 menit/anak

  9. Keluarnya plasenta jika anak semua keluar

  10. Induk tidak langsung mau makan pada hari proses melahirkan.

 

Induk Babi Laktasi / Menyusui

  1. Laktasi bisa lebih dari 8 bulan

  2. Usahakan  3 – 4 minggu

  3. Keluar susu biasanya interval 45 menit

  4. Induk total dapat mengontrol air susunya

  5. Teat order biasanya 1 – 2 hari stlh lahir

  6. Ikatan induk dengan anak dengan suara dan bau

  7. Untuk fostering beda lahir ½ hari

  8. Fostering untuk mengseragamkan berat anak

  9. Produksi susu 10l/hari bantu dengan creep feeding untuk meningkatkan growth anak

  10. Sediakan air minum induk 20 – 25 l/air  

 

Waning to Remating/ Culling

  1. Untuk meningkatkan produktifitas induk

  2. 2 minggu tidak estrus induk di culling

  3. Induk biasanya 6 kali melahirkan stlah itu culling

  4. Kontak jantan dan pencahayaan sangat membantu estrus

  5. Much Feed and Water during mating

  6. Pakan anak sapihan biasanya ditambahkan obat untuk menghindari penyakit.

Thursday, 10 May 2012

jarum


Jarum
Aku tidak ingin seperti jarum yang kehilangan ekor
Hanya bisa tertancap di segulingan benang tampa melakukan apapun
Atau hanya tertancap di kertas hanya untuk mengingatkan pemakai saja
Atau aku terbuang karna tidak mudah mencariku jika terjatuh
By sandi suroyoco sinambela 

Wednesday, 2 May 2012

JIKA TIDAK BISA DIJAWAB SECARA ILMIAH MAKA JAWABLAH SECARA LOGIKA


JIKA TIDAK BISA DIJAWAB SECARA ILMIAH MAKA JAWABLAH SECARA LOGIKA


Aku mengingat betul dimasa kuliah pada semester III ku itu. Saat itu kalimat ini menempel kuat diingatanku dosen maupun asisten yang menanyakanku dan ternyata aku tidak mengetahui jawapannya, maka aku mengatakan demikian: aku masih kurang paham!!! Jadi saya tidak dapat saya baca secara ilmiah, namun demikian aku akan menjawab secara logika. Ternyata menjawab secara logika banyak juga benarnya sudah berkali-kali aku menjawab secara logika dengan alasan-alasan yang kuat, membuat penanya terdiam sejenak lalu menghadapi asumsi ato jawaban saya. Pelbagai masalah memang tidak harus dijawab secara ilmiah saja atau anda harus menambahkan sitasi. Ya memang perlu juga sihhh detail dan kuat. Jika pertanyaan yang tidak pernah kita dengar datang! Nahhhhh!!! Ini nihhh buat gawat. Membuat kita terdiam dan dan terlihat seperti orang bodoh. Jadi cara untuk menghindari pandangan itu jawablah pertanyaannya secara logika. Syukur-syukur jawaban mu benar ato malah membuat pertanyaan baru bagi penanya sehingga dia akan menjelaskan pertanyaannya dengan komplit. 


By: sandi Suroyoco Sinambela.