Monday, 20 May 2013

sekarang memang waktunya gelap tetapi besok akan datang terang Oleh: Sandi Suroyoco Sinambela


sekarang memang waktunya gelap tetapi besok akan datang terang 
Oleh: Sandi Suroyoco Sinambela

Aku menghembuskan napas dengan terpotong potong. Tak bersemangat melihat kiri kanan ataupun depan. Mencoba membuang pelu. Sudut pandangku sesekali terarah pada jendela.  Diluar gelap tak ada tanda kehidupan.

Aku mengulang-ulang kata yang mengalir dan menyelimuti pikiranku.  Dihati, aku mencoba melangkah dengan tenang.  Mencoba menjejaki kembali prinsip dan saran-saran yang telah ada sejak  aku bisa mengolah kata. Mengetuk kembali hati untuk bertemu dengan memori memori penting yang pernah aku simpan.

Saat itu juga aku terkaget.  Mengapa aku hanya mengingat kerikil-kerikil tajam yang tertancap dikaki yang masih menempel kubawa berlari.
 
Nafas panjang kali ini tidak terpotong lagi.  Gelengan kepala dan menunduk “mengapa harus itu?  Kesunyian makin merambat.  Aku  memahaminya tapi entah mengapa aku tak sanggup. Aku mencoba melewatinya dan tak bisa.

Dulu masa kecilku sagat keras.  Harus berjuang menaklukkan alam untuk bisa hidup. Sakit!!!  Harus mengangkat beban hidup yang luarbiasa. Tirsirat pada sesuatu yang tersembunyi di belakang di dua mata yang berkaca-kaca.  Keringat didahi yang tidak segera dikeringkan.  Merasakan hidup yang belum benar-benar hidup.

Aku harus menumpukan dengkul untuk melompat dan berusaha keluar.  Mungkin saja dulu itu hanya suatu kesakitan, akan tetapi setelah saya sadari sekararang pahitnya telah mengalahkan pahitnya empedu. 

Aku melipat tangan dan menutup mata, berusaha menyadarkan aku yang sekarang.  Kubuka mataku perlahan.  Aku mencoba menatap relung hidup.  Ternyata sudah tergambar kembali tumpukan pahit  terkemas dalam balok-balok yang membentuk tangga pendakianku.

Pikiran dan hatiku mulai memberi cahaya.  Menuntunku dari sisi gelap itu. 
Aku kembali mengarahkan pandanganku ke jendela.  Memang masih terlihat gelap.  Terhenti lama dengan sisi itu.  Terkaget telingaku tertancap suara ayam yang berkokok.  Aku kembali merenung lagi, dan ternyata aku tersadar “sekarang waktunya gelap  akan tetapi besok akan datang terang”.

Aku harus menidurkan pikiranku disisi gelap ini dan aku harus terbangun tepat waktu saat cahaya menuntunku.
Post a Comment