Friday, 29 November 2013

contoh usulan penelitian EFEK PEMBERIAN KECAMBAH KACANG HIJAU (TAUGE) TERHADAP TINGKAT KESUBURAN MENCIT BETINA (Mus musculus)


EFEK PEMBERIAN KECAMBAH KACANG HIJAU (TAUGE) TERHADAP TINGKAT KESUBURAN MENCIT BETINA (Mus musculus)




USULAN PENELITIAN

Oleh :

KELOMPOK VIIIB

SANDY S                                           23010110110031
IKA KHIKMAWATI                      23010110110082
ARIF NURCAHYONO                   23010110110069
JESICA SIBARANI                         23010110110006
M.AINSYAR                                     23010110120123
BTARA PRAMU  AJI                     23010110130162
DWI WIJAYANTI                           23010110130189
ANNISA NUR MAULIDA             23010110130206
ROMERTO SINAGA                      23010110130226


logo_undip_hitam_putih









JURUSAN S1 PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013


JUDUL :  EFEK PEMBERIAN KECAMBAH KACANG HIJAU (TAUGE) TERHADAP TINGKAT KESUBURAN MENCIT BETINA (Mus musculus).

 

I.                   PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Kunci sukses dalam usaha peternakan adalah sejauh perusahaan tersebut mampu menghasilkan kontinuitas produknya. Kontinuitas bisa diciptakan dengan adanya perbaikan penampilan reproduksinya. Reproduksi ternak ditentukan oleh kesuburan ternak untuk menghasilkan aktivitas reproduksi. Untuk menghasilkan tingkat kesuburan yang baik dibutuhkan dukungan organ - organ kelamin yang dapat berfungsi dengan normal. Selain itu juga dibutuhkan pakan yang berkualitas. Salah satu nutrisi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesuburan adalah vitamin E. Vitamin E berfungsi untuk anti oksidan alami yang melindungi karoten dan nutrisi lain yang mudah teroksidasi. Vitamin E mampu menekan peroksidasi lipid pada membran sel sehingga akan melindungi membran dari kerusakan. Vitamin tersebut banyak terdapat pada biji-bijian, minyak gandum dan kecambah kacang hijau. Dalam hal ini akan dilakukan penelitian pada hewan mencit sebagai uji coba sebelum diberikannya perlakuan kepada hewan ternak. Dipilih hewan mencit karena mencit merupakan hewan laboratorium yang mudah dipelihara.
Tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh pemberian kecambah kacang hijau (tauge) terhadap tingkat kesuburan sebagai bahan pakan tambahan untuk mencit betina. Manfaat dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa banyak taraf pemberian pakan tambahan berupa kecambah kacang hijau (tauge) yang berpengaruh terhadap kesuburan mencit betina.
 

II.                TINJAUAN PUSTAKA
2.1.            MENCIT
Mencit termasuk filum Chordata, kelas Mammalia, ordo Rodentia, famili Muridae, genus Mus dan spesies Mus musculus (Arrington, 1972). Mencit  merupakan hewan yang paling banyak digunakan sebagai hewan model untuk percobaan laboratorium dengan kisaran 40-80%. Hal ini disebabkan karena mencit sangat produktif dan mudah dikelola (Inglis, 1980).  Hewan ini mudah didapat, mudah dikembangbiakkan dan harganya relatif murah, ukurannya kecil sehingga mudah ditangani, dan jumlah anaknya banyak (Yuwono  et al., 1994).
Alasan digunakannya hewan laboratorium sebagai objek penelitian dalam bidang peternakan, diantaranya karena biaya yang dibutuhkan tidak begitu mahal, efisien dalam waktu, kemampuan reproduksi yang tinggi dalam waktu singkat dan sifat genetik dapat dibuat  seseragam mungkin dalam waktu yang lebih pendek dibanding ternak yang lebih besar (Arrington , 1972).


2.2.           
Karakteristik Mencit



2.3.            Fisiologi  Mencit


 











2.4.      Konsumsi Pakan Mencit
Konsumsi pakan merupakan jumlah pakan yang dikonsumsi oleh hewan bila makanan tersebut diberikan  add libitum dalam jangka waktu tertentu (Parakkasi, 1999). Seekor mencit dewasa dapat mengkonsumsi makanan 3-5 g setiap hari. Mencit bunting atau menyusui memerlukan makanan yang lebih banyak. Makanan yang sering digunakan adalah makanan ayam dengan kandungan protein 20–25%, lemak 5%, pati 45–50%, serat kasar 5%, abu 4–5% (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988). Mencit membutuhkan makanan berkadar protein diatas 14%. Kebutuhan protein untuk kondisi Indonesia  dapat dipenuhi dari makanan ayam petelur (17% protein) dan seekor mencit dewasa membutuhkan 15 g makanan dan 15 ml air per 100 g bobot badan per hari (Malole dan Pramono, 1989).

2.5.      BOBOT LAHIR
Bobot lahir adalah bobot badan suatu individu pada saat dilahirkan.  Bobot lahir ternak ditentukan oleh pertumbuhan fetus sebelum lahir atau pertumbuhan selama di dalam kandungan induknya. Pertumbuhan sebelum lahir dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya mutu genetik ternak, umur serta bobot badan induk yang melahirkan, pakan induk dan suhu lingkungan selama kebuntingan (Toelihere, 1979).  Bobot lahir mencit berkisar antara 0,5-1,5 g/ekor (Malole dan Pramono, 1989).
Faktor lingkungan termasuk ukuran, nutrisi induk, jumlah anak sepelahiran, ukuran plasenta dan tekanan iklim (Hafez, 1993). Waktu foetus mulai tumbuh di dalam uterus, foetus memperoleh zat-zat makanan dari induknya. Apabila zat-zat makanan dari induk tidak mencukupi selama kebuntingan, maka bobot badan anak mencit pada waktu dilahirkan akan subnormal dan kekuatannya akan berkurang. Kekurangan vitamin dan mineral dalam ransum induk selama kebuntingan akan  mempunyai pengaruh yang nyata terhadap kekuatan anak dengan tidak memperlihatkan pengaruh yang besar terhadap bobot lahir. Bobot lahir yang ringan  tidak mempunyai pengaruh terhadap bentuk dewasa bila zat-zat makanan yang diberikan cukup setelah dilahirkan (Anggorodi, 1979).


            Tabel 2. Bobot badan anak mencit umur 0 – 21 hari


2.6.     REPRODUKSI MENCIT BETINA
Mencit memiliki sifat reproduksi yang tinggi yaitu polyestrus dan mengalami oestrus post partum 14-28 jam setelah partus yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi anak. Namun, jika induk langsung dikawinkan setelah partus atau beranak maka dapat mengakibatkan kebuntingan yang lebih lama 3-5 hari daripada lama kebuntingan sebelumnya dan kebuntingan terjadi pada saat induk masih menyusui anak (Malole dan Pramono, 1989). Faktor lain yang dapat mempengaruhi sifat reproduksi mencit adalah umur induk. Umur induk merupakan faktor yang sangat menentukan terhadap jumlah sel telur dan respon hormon yang dihasilkan (Sunarti, 1992). Penurunan fertilitas dan jumlah anak per kelahiran terjadi pada mencit yang mengalami siklus estrus tidak teratur saat umur setengah tua (Day et al., 1991).

2.7.       VITAMIN E
Vitamin E (tokoferol) adalah minyak yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan, khususnya benih gandum, beras dan biji kapas. Susunan kimia vitamin E terdiri dari nucleus chroman dan rantai samping isoprenoid. Sifat umum vitamin E adalah tahan panas, mudah dioksidasikan dan rusak apabila terdapat dalam lemak tengik.  Vitamin E berfungsi dalam reaksi fosforilasi, metabolisme asam nukleat, sintesis asam askorbat dan sintesis ubiquinon, reproduksi, mencegah encephalomalasia dan distorsi otot. Vitamin E terdapat di alam yaitu pada lemak dan minyak hewan atau tanaman terutama bagian kecambah gandum, telur, dan kolostrum sapi. Defisiensi vitamin E dapat menyebabkan degenerasi epitel germinal pada hewan jantan serta resorpsi embrio pada hewan betina (pada mamalia) yang tergantung pada vitamin E. Vitamin E sudah lama dikenal sebagai salah satu antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas penyebab kerusakan pada jaringan tubuh, sehingga kesehatan jaringan dapat lebih terjaga dan fungsi kerjanya pun dapat lebih dioptimalkan. Untuk jaringan reproduksi terutama berfungsi untuk menjaga kesehatan sperma karena vitamin E terbukti mampu untuk melindungi membran sperma dari kerusakan akibat oksidasi. Di mana kita ketahui, rusaknya DNA sperma merupakan salah satu penyebab terjadinya ketidaksuburan. kekurangan vitamin E juga berpengaruh pada turunnya produksi enzim dan hormon-hormon kunci yang bertanggung jawab pada pembentukan sperma (Widodo, 2006).
2.8.     Tauge (Kecambah Kacang Hijau)

Kecambah atau tauge adalah tumbuhan sporofit muda yang baru saja berkembang dari tahap embrionik di dalam biji. Tahap perkembangannya disebut perkecambahan dan merupakan satu tahap kritis dalam kehidupan tumbuhan (Jajarmi, 2009). Kecambah sering digunakan sebagai bahan pangan dan digolongkan sebagai sayur-sayuran. Khazanah boga Asia mengenal tauge sebagai bagian dari menu yang cukup umum. Kecambah dikatakan makanan sehat karena kaya akan vitamin E. Tauge segar sangat kaya akan vitamin E, dan merupakan menu yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi. Dengan mengonsumsi tauge, tubuh akan terobati dan tercegah dari kekurangan vitamin E (National Education Board, 1899). Dalam kecambah, terkandung fitoestrogen yang dapat berfungsi seperti estrogen bagi     wanita (Cabot, 1995). 
 

III.             MATERI DAN METODE

Penelitian dilakukan pada bulan Mei, 2013 di Laboratorium Genetik Pemuliaan dan Reproduksi Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1        Materi

Materi yang digunakan yaitu hewan laboratorium berupa mencit betina usia 8 minggu minggu sebanyak 12 ekor. Alat yang digunakan adalah mikroskop, pipet pasteur,  gelas objek, kamar hitung neubauer, dan kandang yang digunakan sebagai tempat tinggal mencit.  Setiap ekor mencit ditempatkan secara terpisah dengan yang lain. Pakan yang digunakan adalah pakan ayam dengan kandungan protein ≥ 17% serta kecambah yang diberikan segar.

3.2              Metode

Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu mulai dari persiapan peralatan dan kandang. Mencit yang sudah terseleksi dikelompokkan ke dalam kandang (6 ekor setiap kandang). Kelompok mencit pada masing – masing kandang `adalah sebagai perlakuan kelompok 1, yang tidak diberi tambahan kecambah segar sedangkan kelompok 2 diberi tambahan kecambah segar 10% dari total pemberian pakan dengan pola pengawinan pejantan yang sama. Parameter yang diukur pada mencit betina adalah pertambahan bobot badan, litter size, dan bobot anak.
Mengunakan metode Paired Sample t test yang merupakan teknik analisis untuk membandingkan 2 perlakuan, dengan parameter yang diamati adalah pertambahan bobot badan, litter size, dan bobot anak.
Rumus Paired Sample t test :

t =
Keterangan :
t  = nilai hitung t
D = Rata-rata selisih pengukuran 1 dan 2
SD= Standar deviasi selisih pengukuran 1 dan 2
N = Jumlah sample







IV. Jadwal Penelitian
Kegiatan
Mei
Minggu 1
Minggu 2
Minggu 3
Minggu 4

Persiapan





















Penyusunan proposal





















Konsultasi





















Pelaksanaan penelitian





















Pengumpulan data





















Analisis data






















V. Rencana Anggaran Biaya
No.
Barang
Biaya
1.
2.
3.
Pembelian Mencit 12 ekor @ Rp 15.000,-
Pembelian Kecambah            
Pembuatan kandang
Jumlah
 Rp 180.000,00
 Rp   20.000,00
          Rp    30.000,00

Rp 230.000,00

 






DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia Pustaka, Jakarta.

Arrrington, L.R. 1972. Introductory Laboratory Animal Sciene, The Breeding, Care and Management of Experimental Animal. The Interstate Printers and Publishers. Inc. Danville.

Cabot, M. D. S. 1995. Smart Medicine for Menopause: Hormone Replacement Therapy and Its Natural Alternatives. Avery Publishing Group. ISBN 0-89529-628-4.

Day, J. R., P. S. Lapolt, T. H. Morales dan K. K. H. Lu. 1991. Plasma pattern of prolactin , progesterone and estradiol during early pregnancy in angingbrats : Relation to embryonic development. Biology Reproduction 44:786-790.

Hafez, E.S.E. 1993. Reproduksi in Farm Animal.6 th  Edit. Lea and Febiger, Philadelphia.

Inglis, J.K. 1980. Introduction to Laboratory Animal Sciene and Technology. Pergamon Press Ltd. Oxford.

Jajarmi, V. 2009. Effect of Water Stress on Germination Indices in Seven Wheat Cultivar. World Academy of Science, Engineering and Technology 49: 105–106.

Malole, M.B.M dan C.S.U. Pramono. 1989. Penggunaan Hewan – hewan Percobaan di Laboratorium. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

National Education Board (1899). Fourth book of lessons for the use of schools. Ireland. National Education Board.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan  Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia, Jakarta.

Smith, B.J. dan S. Mangkoewidjojo. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Sunarti. 1992. Pengaruh umur induk terhadap perkembangan awal embrio mencit (Mus musculus albinos) hasil superovulasi. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Toelihere, M. R. 1979. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Penerbit Angkasa, Bandung.

Widodo, E. 2006. Pengantar Ilmu Nutrisi Ternak. UMM, Malang.
Yuwono, S. S., E. Sulaksono dan R. P. Yekti.  1994. Keadaan nilai normal baku mencit  strain CBR Swiss Derived di pusat penelitian penyakit menular. http://www.kalbefarma.com.   20 Desember 2005.

Post a Comment