Thursday, 5 December 2013

1001 sahabat... PD3 Pak Bambang Sulistianto. Pak Ahok VS Pak Basul By: Sandi Suroyoco Sinambela


1001 sahabat... PD3 Pak Bambang Sulistianto.  Pak Ahok VS Pak Basul
By: Sandi Suroyoco Sinambela

Mau ketemu siapa? Ku sapa salah satu teman di ruang tunggu di dekanat lantai dua.  “pak Basul jawapnya”  sepertinya dia berusaha menenangkan dirinya, sesekali dia menundukkan kepala dan tak ada wajah ceria disana, semuanya adalah ekspresi buram yang tidak karuan. Ya ! Setiap mahasiswa yang menunggu giliran untuk bertemu beliau memang pasti akan merasakan ketegangan tak terkecuali saya.  Menyiapkan sejumlah berkas, sembari menunggu giliran menggoyang-goyang kaki meredam kejenuhan dan ketakutan.
Mahasiswa sudah saling tau bahwa beliau sering marah-marah jika ada kesalahan yang di tunjukkan mahasiswa. Mungkin situasi itulah yang membuat mahasiswa semakin grogi untuk maju ke meja singgasananya.  Wajar kalau mahasiswa bicara seadanya, bahkan bungkam saat didepannya.
Sangat susah untuk diterima jika seseorang harus menuntut kita untuk memberikan 100%.  Akan tetapi akhir-akhir ini saya sadar bahwa beliau mengajarkan hal yang sangat baik. 
Saya tersadarkan saat mengikuti profil pak Wagub DKI Jakarta Ahok.  Keras, tegas, marah, dan tidak kompromi dengan kesalahan.  Ada pertanyaan yang muncul saat saya membandingkan kedua gaya memimpin pak Basul. 
1.      Kesamaan apa yang beliau miliki?
2.      Apa tujuan beliau sehingga memimpin dengan gaya yang demikian?
3.      Apakah mahasiswa membutuhkan gaya yang seperti beliau?
4.      Kenapa harus marah marah dengan kesalahan?
5.      Apa beliau bisa dikatakan otoriter?
Ternyata gaya beliau adalah sesuatu yang harus kita benarkan saat ini.  Beliau ternyata bertugas membersihkan yang kotor-kotor di kampus ini.  Perilaku mahasiswa yang ingin instan dan banyak hal lain lagi adalah satu hal penting yang akan dihancurkan  dengan gaya ini.  Dan ternyata Indonesia sedang butuh orang-orang seperti beliau. 
Saat kepemimpinan Jokowi-Ahok tidak banyak lagi yang ingin melakukan kong-kalikong, di Instansi tidak ada yang berani mengambil sepeserpun yang bukan haknya.  Bukankah yang diajarkan dosen kita pak Bambang Sulis adalah hal yang harus kita benarkan saat ini?
Jika memang kita dimarahi oleh adanya kesalahan, itu adalah hal yang wajar.  Itu adalah untuk membentuk karakter kita lebih baik, dan untuk kesuksesan kita.   Tidak cukup hanya rajin dan ulet untuk menghadapi masalah di luar sana.
Robert Strauss “ Untuk mencapai kesuksesan ibarat bergulat dengan gorilla”
Bertemu dengan beliau adalah latihan penting untuk terjun ke masyarakat.
Saya menuliskan artikel karena saya ingin membuang presepsi negatif yang sudah lama tertanam kepada beliau.  Semoga beliau selalu memberikan yang terbaik yang dibutuhkan mahasiswa terlebih untuk Indonesia.
Pelajaran hidup yang saya dapatkan setelah mencermati gaya memimpin Pak Bambang Sulis adalah:  Tidak membiarkan mahasiswa untuk melakukan hal yang semena-mena merupakan salah satu langkah untuk menghadapi krisis MENTAL yang sedang dihadapi Indonesia. 
Post a Comment