Sunday, 6 July 2014

Milk Fever Pada Ternak RUMINANSIA


MILK FEVER


NAMA : SANDI SUROYOCO SINAMBELA


Milk fever adalah penyakit yang terjadi akibat ketidakmampuan seekor sapi ataupun kambing beradaptasi terhadap perubahan konsentrasi kalsium di dalam tubuhnya. Kalsium adalah makromineral yang sangat penting di dalam tubuh. Kalsium berperan dalam proses pembentukan tulang, kontraksi otot, pembekuan darah dan lain-lain. Bila seekor sapi kehilangan kalsium akibat proses pemerahan, maka kalsium darah harus segera tergantikan. Ketidakmampuan sapi menanggapi kebutuhan tersebut menyebabkan konsentrasi kalsium darahnya turun dan menyebabkan gangguan peran fungsi kalsium termasuk kontraksi otot. Gejala klinis dari milk fever adalah anoreksia, turunnya suhu tubuh, leher melipat dan pupil tidak bereaksi terhadap cahaya. Milk fever meningkatkan risiko terjadi mastitis pada sapi perah. Penderita milk fever akan mengalami kesulitan mengalami kontraksi otot, termasuk juga otot-otot lubang puting.
Milk fever terjadi pada ternak kambing dan sapi. Sapi yang sering terserang milk fever adalah sapi perah terutama pada umur diatas 5 yahun.
Milk fever terjadi karena beberapa faktor yaitu predisposisi dan etiologi. Faktor predisposisi meliputi bertambah tua ternak tersebut > 5 th : 20%, herediter, produksi susu yang terlalu tinggi, nafsu makan ternak yang semakin lama semakin berkurang. faktor etiologi menjelaskan bahwa adanya gangguan sistim syaraf, alergi, gangguan neuromuskuler, penyakit turunan, penyakit infeksi, dan defisiensi mineral dan vitamin dalam pakan seperti Ca, P, vit A, vitamin D. Pada umumnya sapi penderita mempunyai konsentrasi kalsium darah kurang dari 7 mg/dl. Implikasi menurunnya peran fungsi kalsium mempunyai dampak yang luas terhadap sistem kekebalan dan penyakit-penyakit lain pada sapi periode periparturien.
Cara penanggulangannya adalah dengan cara pengobatan dan pencegahan.Pengobatan dilakukan dengan cara menyuntikan preparat Ca (boroglukonat calcicus) : 50 -100 ml pada kambing. Sapi : 10 kali (separo secara iv dan separo secara sc). Pencegahan pada saat 30 hr menjelang kelahiran : Ca diturunkan, setelah melahirkan Ca ditingkatkan pemberian. Hal-hal yg perlu diperhatikan adalah turunnya Ca sampai kadar 3 – 7 mg/dl, turunnya P sampai 1 mg/dl (normal : 5 – 6mg/dl), pemberian Ca yang berlebihan sepanjang masa bunting, hormon tyrocalcitonin dari kel. tyroid mjd tidak aktif, penyerapan Ca di sel-sel usus menurun, hormon parathormon dari kel. Tyroid meningkat, gangguan absorbsi Ca, gangguan 1,25 (OH)2 vitamin D, hormon estrogen dan kel adrenal absorbsi Ca turun, mobilisasi Ca dr tulang meningkat.

selamat membaca dan hendaknya mendapat pengetahuan yang lebih??? gam sa hamnida, arigato, thankyou so much.
Post a Comment