Friday, 9 November 2012

laporan tpp


BAB I
PENDAHULUAN
            Kebutuhan pakan di Indonesia semakin meningkat seiring dengan laju perkembangan usaha peternakan. Salah satu upaya yang dapat menunjang yaitu dengan ketersediaan hijauan yang cukup, kontinyu sepanjang tahun dan mengandung nilai gizi yang cukup. Kenyataannya, kontinyuitas penyediaan pakan hijauan masih mendapat hambatan akibat lahan untuk produksi semakin langka karena penggunaannya diorientasikan untuk pertanian tanaman pangan.
            Pengolahan pakan merupakan suatu teknologi pengawetan dan peningkatan kualitas hijauan. Pengolahan pakan dilakukan untuk meningkatkan dan menjaga kualitas hijauan, serta dapat menyimpan hijauan yang melimpah di musim hujan untuk memenuhi kebutuhan ternak pada musim kemarau.
Daun gamal merupakan salah satu tanaman leguminosa yang sering digunakan untuk pakan ternak, terutama ternak kambing. Ketersediaannya yang sangat melimpah merupakan salah satu alasan daun gamal banyak dimanfaatkan menjadi silase. Jerami padi memiliki kelemahan dalam segi nutrisinya yaitu kandungan serat kasarnya tinggi. Pemberian pakan pada ternak dapat diberikan berbentuk olahan seperti hasil olahan silase maupun amoniasi.
            Tujuan dari praktikum Teknologi Pengolahan Pakan yaitu mengetahui cara pembuatan silase dan amoniasi. Manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui ciri-ciri silase dan jerami amoniasi yang baik dilihat dari organoleptik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.        Gamal
              Gamal (Gliricidia sepium) merupakan salah satu jenis tanaman atau leguminosa pohon yang sering digunakan sebagai pohon pelindung tanaman kakao. Gamal dapat dimanfaatkan sebagai pakan basal ternak kambing maupun pakan campuran melalui proses pelayuan. Pemanfaatan daun gamal sebagai sumber pakan ruminansia sangat memungkinkan dan beralasan, mengingat tanaman gamal dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang kurang subur, tahan terhadap kekeringan dan produksi hijauan tinggi (Tillman et al., 1991). Daun gamal mengandung 27% bahan kering, 2,6% abu, 0,8% lemak, 4,8% serat kasar, 19,9% protein kasar dan 21,1 bahan ekstrak tanpa nitrogen (Hartadi et al., 1993)

2.2.      Jerami padi

Jerami padi adalah bagian tanaman padi yang sudah diambil produk utamanya, di dalamnya termasuk batang, daun, dan merang. Produksi jerami padi dihasilkan sekitar 50% dari produksi gabah kering panen. Jerami ternasuk pakan kasar yaitu bahan pakan yang berasal dari limbah pertanian atau tanaman yang sudah dipanen (Tillman et al., 1991). Kandungan jerami padi terdiri atas protein kasar 4,5 %, serat kasar 35%, lemak kasar 1,55%, abu 16,5%, kalsium 0,19%, fosfor 0,1%, energi TDN (Total Digestible Nutrients) 43%, energi DE (Digestible Energy) 1,9 kkal/kg, dan lignin yang  tinggi (Siregar, 1996).
2.3.        Bekatul
            Bekatul merupakan salah satu bahan pakan yang tergolong sebagai sumber energi. Bekatul diperoleh dari hasil sampingan dari pengolahan padi. Kandungan nutrisi yang terdapat dalam bekatul antara lain 87% bahan kering, 70% TDN (Hartadi et al., 1993). Bekatul merupakan hasil sampingan dari proses penyosohan padi yang kandungan gizi dan komposisi kimianya cukup tinggi, yaitu protein 11,3 - 14,4%; lemak 15,0 - 19,7%; serat kasar 7,0 - 11,4%; karbohidrat 34,1 - 52,3% dan abu 6,6 - 9,9% (Lubis et al., 2002).
2.4.        Urea
Urea merupakan bahan pakan potensial yang mengandung non protein nitrogen (NPN). Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2,88 kg protein kasar (6,25x46%). Urea dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna. Urea dengan rumus molekul CO(NH2)2 banyak digunakan dalam ransum ternak ruminansia karena mudah diperoleh, harganya sangat murah dan sedikit keracunan yang diakibatkannya. Urea berbentuk kristal padat berbentuk putih dan higroskopis. Urea mengandung nitrogen sebanyak 42-45% atau protein kasar antara            26,2-28,1% (Siregar, 1996). Urea merupakan bahan padat yang disintesis dengan menggabungkan amoniak dan CO2. Urea mengandung enzim urease yang dapat diuraikan menjadi amoniak dan CO2. Pembuatan amoniasi dengan menggunakan urea sebaiknya dicampur air agar proses pengadukan urea merata (Komar, 1984).
2.5.      Silase
Silase adalah hijauan makanan ternak yang disimpan dalam keadaan segar, dalam suatu tempat yang disebut silo. Silo merupakan tempat penyimpanan makanan ternak (hijauan) baik yang dibuat dalam tanah maupun diatas tanah. Silase merupakan suatu proses fermentasi dengan maksud mengawetkan hijauan dalam keadaan basah (lembab). Hal-hal yang dapat menyebabkan kerusakan silase adalah pemadatan hijauan dalam silo yang kurang sempurna dan penutupan silo yang tidak sempurna (Komar, 1984). Silase yang berkualitas baik mempunyai ciri-ciri teksturnya tidak berubah, tidak menggumpal, berwarna hijau seperti daun direbus dan berbau asam. Silase merupakan hijauan yang diawetkan dengan cara fermentasi dalam kondisi kadar air yang tinggi (40-80%) . Keunggulan pakan yang dibuat silase adalah pakan awet (tahan lama), tidak memerlukan proses pengeringan, meminimalkan kerusakan zat makanan/gizi akibat pemanasan serta mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen (perut) sapi (Febrisiantosa, 2007).
Udara (oksigen) dapat masuk, populasi yeast dan jamur akan meningkat dan menyebabkan panas dalam silase karena proses respirasi. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemadatan bahan baku silase terkait dengan ketersediaan oksigen di dalam silo, semakin padat bahan, kadar oksigen semakin rendah sehingga proses respirasi semakin pendek (Murni et al., 2008). Kualitas silase dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : asal atau jenis hijauan, temperatur penyimpanan, tingkat pelayuan sebelum pembuatan silase, tingkat kematangan atau fase pertumbuhan tanaman, bahan pengawet, panjang pemotongan, dan kepadatan hijauan dalam  silo (Regan, 1997).
Pembuatan silase perlu ditambahkan bahan pengawet agar terbentuk suasana asam dengan derajat keasaman optimal. Bau asam dapat dijadikan sebagai indikator untuk melihat keberhasilan proses ensilase, sebab untuk keberhasilan proses ensilase harus dalam suasana asam dan secara anaerob (Siregar, 1996). Tidak tumbuhnya jamur dalam proses pembuatan silase ini sangat penting untuk dipertahankan karena pH pertumbuhan optimum jamur adalah      4,0-6,5 (Syarief et al,. 2003)
2.6.      Amoniasi
 Amoniasi merupakan suatu cara pengolahan jerami padi secara kimiawi dengan  menggunakan gas ammonia, 1 kg urea menghasilkan 0,57 kg gas ammonia (Siregar, 1996). Manfaat dari amoniasi yaitu merubah tekstur dan warna jerami yang semula keras berubah menjadi lunak dan rapuh, warna berubah dari kuning kecoklatan menjadi coklat tua, meningkatkan kadar protein, serat kasar, energi bruto tetapi menurunkan kadar BETN dan dinding sel, meningkatkan bahan kering, bahan organik, dinding sel, nutrien tercerna total, energi tercerna, dan konsumsi bahan kering jerami padi, NH3 cairan rumen meningkat, memberikan bahan nitrogen yang positif, menghambat pertumbuhan jamur, dan memusnahkan telur cacing yang terdapat dalam jerami (Rahardi, 2009).
Tujuan amoniasi adalah untuk menguraikan ikatan serat yang sangat kuat pada dinding jerami tersebut agar sellulosa dan hemisellulosa yang mempunyai nilai energi sangat tinggi bisa di cerna dan diserap oleh pencernaan ternak ruminansia (Tonysapi, 2008). Kandungan urea pada proses amoniasi mempengaruhi tinggi rendahnya kandungan amoniak (Soejono, 1986).
Amoniasi disebut dengan perlakuan alkali karena dalam proses tersebut NH3 bersifat alkali. Keuntungan dari proses amoniasi antara lain cara pengerjaannya tidak berbahaya, murah, menghilangkan kontaminasi mikroorganisme, meningkatkan protein kasar sampai dua kali lipat, meningkatkan jumlah konsumsi pakan karena jerami amoniasi lebih palatable (Soejono, 1986). Ciri – ciri kualitas amoniasi yang baik yaitu berbau amonia menyengat, berwarna coklat tua, tekstur remah, pH basa dan tidak berjamur atau menggumpal, bersifat anaerob  (Komar, 1984).









BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum Teknologi Pengolahan Pakan dengan materi Silase dan Amoniasi yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 19 Mei sampai 9 Juni 2011 pukul 09.00 - 11.00 WIB di Laboratorium Teknologi Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.      Materi

3.1.1.   Silase
Bahan yang digunakan dalam praktikum silase adalah daun gamal sebanyak 500 gram dan bekatul 7,5 gram. Peralatan yang digunakan dalam silase adalah pisau untuk memotong-motong daun gamal, timbangan untuk menimbang daun gamal, plastik sebagai tempat proses fermentasi daun gamal dengan bekatul, nampan sebagai tempat mencampur daun gamal dengan bekatul, kertas label untuk menandai plastik pada perlakuan, pH meter untuk mengukur pH dan alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan.

3.1.2.   Amoniasi
Bahan yang digunakan dalam praktikum amoniasi adalah jerami padi sebanyak 500 g, urea sebanyak 28 g dan air sebanyak 83,33 ml. Peralatan yang digunakan dalam amoniasi adalah pisau untuk memotong-motong jerami, timbangan untuk menimbang jerami dan urea, plastik sebagai tempat proses amoniasi jerami dengan urea, nampan sebagai tempat mencampur jerami dengan larutan urea, gelas ukur untuk mengukur volume air untuk melarutkan urea, kertas label untuk memberi tanda plastik perlakuan, pH meter untuk mengukur pH dan alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan.

3.2.1.      Metode
3.2.2.      Silase
Metode yang digunakan dalam praktikum pembuatan silase adalah melayukan daun gamal sampai kadar air 65%,. Mencampur dengan 7,5 gram bekatul sampai homogen, Memasukkan kedalam plastik dan memadatkannya dengan memberi termometer. Menutup rapat, dipadatkan dan menyimpannya dengan aman. Masing – masing sampel dilakukan dua kali perlakuan. Mengamati perlakuan tersebut selama 3 minggu. Setiap minggu diamati organoleptiknya mulai dari minggu ke-0, minggu ke-1, minggu ke-2 dan minggu ke-3 berupa warna, bau, rasa, tekstur dan pH.
Rumus kebutuhan bekatul :
Kebutuhan bekatul      =  dosis bekatul x BK daun gamal

3.2.3.      Amoniasi
Metode yang digunakan dalam praktikum pembuatan amoniasi jerami adalah memotong jerami 5 – 10 cm , menimbang jerami sebanyak 500 gram, menambahkan urea sebanyak 28 gram dari bahan kering jerami, melarutkan urea dengan air sebanyak 83,3 ml dan mencampurnya dengan jerami sampai homogen, memasukkan kedalam plastik dengan menutup rapat dan menyimpannya dengan aman. Mengamatinya selama 3 minggu. Setiap minggu diamati organoleptiknya mulai dari minggu ke-0, minggu ke-1, minggu ke-2 dan minggu ke-3 berupa warna, bau, rasa, tekstur dan pH.
Rumus kebutuhan urea :
Kebutuhan urea           = dosis urea x BK jerami padi
Rumus perhitungan penambahan air :

Volume air yang dibutuhkan   =
Keterangan:
a = air yang dibutuhkan (ml)


























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.      Silase
Hasil pengamatan praktikum pembuatan silase daun gamal dengan penambahan bekatul disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Organoleptik Silase Daun Gamal dengan Bekatul

Kriteria
Minggu 0
Minggu 1
Minggu 2
Minggu 3
Skor
Warna
Hijau
Hijau kecoklatan
Hijau kecoklatan
Hijau seperti daun direbus
8
Bau
Segar
Sangat busuk
Busuk
Sangat busuk dan merangsang
3
Rasa
Hambar
Asam
Asam
Asam
4
  Tekstur
Sesuai asli
Lembek
Agak remah
Lembek
3
pH
6,08
5,37
5,23
5,04
5
Suhu
28,55
28,2
28,45
28,4

Jamur
Tidak
Tidak
Sedikit
Banyak
2
Penggumpalan
Tidak
Tidak
Menyeluruh
Menyeluruh
3
Sumber: Data Primer Praktikum Teknologi Pengolahan Pakan, 2011.

4.1.1.   Bau dan rasa
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bau dari silase daun gamal diperoleh hasil pada minggu ke-0 masih berbau segar, minggu ke-1 berbau sangat busuk, minggu ke-2 berbau busuk, minggu ke-3 berbau sangat busuk dan merangsang. Hal ini menunjukkan bahwa silase memiliki kualitas yang kurang baik karena bau silase sangat busuk dan merangsang. Bau silase yang baik adalah berbau busuk. Bau busuk dan merangsang pada silase tersebut dikarenakan adanya udara yang masuk dalam plastik, sehingga mikroorganisme beraktivitas karena didukung oleh suasana yang aerob, seharusnya tempat silo harus dalam suasana anaerob. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Murni et al. (2008) yang menyatakan udara (oksigen) dapat masuk, populasi yeast dan jamur akan meningkat dan menyebabkan panas dalam silase karena proses respirasi, sehingga menyebabkan perubahan untuk bahan silase. Rasa silase dari secara garis besar adalah asam. Hal ini dikarenakan bakteri yang ada pada sampel akan bekerja pada suasana asam dan dalam keadaan anaerob. Silase tersebut mempunyai kualitas yang sangat baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Deptan (1980) yang menyatakan bahwa silase yang baik mempunyai rasa yang asam.

4.1.2.   Tekstur
            Berdasarkan hasil praktikum pengamatan tekstur silase gamal dengan penambahan bekatul 7,5 gram, diperoleh hasil pada minggu ke-0 bertekstur sesuai asli, minggu ke-1 bertekstur lembek, ke-2 bertekstur agak remah dan ke-3 bertekstur lembek. Silase yang terbentuk menandakan berkualitas jelek karena tekstur berubah menjadi lembek dikarenakan adanya rongga udara yang mengakibatkan adanya uap air yang tercampur dalam sampel tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Komar (1984) yang menyatakan bahawa hal-hal yang dapat menyebabkan kerusakan silase adalah pemadatan hijauan dalam silo yang kurang sempurna dan penutupan silo yang tidak sempurna. Pioner Development foundation (1991) menambahkan bahwa kadar air yang rendah dapat mempengaruhi tekstur silase.


4.1.3.   Warna
               Berdasarkan hasil praktikum pengamatan warna dari silase daun gamal dengan penambahan urea 7,5 gram, diperoleh hasil pada minggu ke-0 berwarna hijau, minggu ke-1 dan 2 berwarna hijau kecoklatan dan ke-3 berwarna hijau seperti daun direbus. Warna pada silase dikarenakan kandungan kadar air dalam daun gamal yang dimampatkan dalam suasana anaerob sehingga tidak terjadi proses fotosintesis dan menyebabkan warna menjadi hijau seperi daun direbus (menandakan normal). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Febrisiantosa (2007) yang menyatakan silase yang berkualitas baik mempunyai ciri-ciri teksturnya tidak berubah, tidak menggumpal, berwarna hijau seperti daun direbus dan berbau asam. Silase merupakan hijauan yang diawetkan dengan cara fermentasi dalam kondisi kadar air yang tinggi (40-80%).

4.1.4.   Jamur
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan jamur dari silase daun gamal dengan penambahan bekatul 7,5 gram, diperoleh hasil pada minggu ke-0 sampai minggu ke-1 tidak terdapat jamur dan pada minggu ke-2 dan ke-3 ada banyak jamur. Kualitas silase tersebut tergolong sangat jelek  dikarenakan adanya jamur yang sangat banyak pada minggu terakhir. Pertumbuhan jamur pada silase ini dapat disebabkan karena kondisi lingkungan yang mempunyai kelembapan tinggi dan aliran udara yang kurang baik yang tidak sesuai dengan keadaan normalnya. Hal ini sesuai dengan pendapat  Pioner Development foundation (1991) bahwa faktor yang mempengaruhi kualitas silase adalah asal atau jenis hijauan, temperatur penyimpanan, tingkat pelayuan sebelum pembuatan silase, tingkat kematangan atau fase pertumbuhan tanaman, bahan pengawet, panjang pemotongan, dan kepadatan hijauan dalam silo. Regan menambahkan (1997) bahwa kualitas silase yang baik tidak terdapat jamur.

4.1.5.   Penggumpalan
Berdasarkan hasil pratikum pengamatan ada tidaknya penggumpalan silase daun gamal dengan penambahan bekatul 7,5 gram, diperoleh hasil pada minggu ke-0, minggu ke-1 tidak terdapat penggumpalan, ke-2 dan ke-3 terdapat penggumpalan menyeluruh.  Hal ini disebabkan pada minggu ke-2 dan ke-3 karena adanya oksigen dalam  plastik, sehingga uap air dan oksigen dalam plastik tersebut menyebabkan silase menggumpal.Hal tersebut sesuai dengan pendapat  Murni et al. (2008) yang menyatakan bahwa udara (oksigen) dapat masuk, populasi yeast dan jamur akan meningkat dan menyebabkan panas dalam silase karena proses respirasi sehingga dapat menyebabkan penggumpalan.

4.1.6.   pH
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan pH dari silase daun gamal dengan penambahan bekatul 7,5 gram, diperoleh hasil pada minggu ke-0 pH 6,08, minggu ke-1 pH 5,37, minggu ke-2 pH 5,23 dan minggu ke-3 pH 5,04. Hal ini membuktikan penambahan bekatul dapat menjadikan suasana menjadi asam,    ciri-ciri silase yang baik yaitu bersifat asam. Hal ini sesuai dengan Siregar (1996) bahwa, pada pembuatan silase perlu ditambahkan bahan pengawet agar terbentuk suasana asam dengan derajat keasaman optimal. Syarief et al. (2003) menyatakan bahwa tidak tumbuhnya jamur dalam silase ini sangat penting untuk dipertahankan karena pH pertumbuhan optimum jamur adalah 4,0-6,5.

4.2.      Amoniasi
Hasil pengamatan praktikum pembuatan amoniasi jerami padi disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengamatan Organoleptik Amoniasi Jerami Padi dengan Urea

Kriteria
Minggu 0
Minggu 1
Minggu 2
Minggu 3
Skor
Warna
Kuning kecoklatan
Kuning kecoklatan
Coklat
Coklat
4
Bau
Segar
Berbau amoniak tidak menyengat
Berbau amoniak menyengat
Berbau amoniak menyengat
9
Rasa
Hambar
Hambar
Hambar
Hambar

Tekstur
Sesuai dengan asli
Agak remah
Agak remah
Remah
8
pH
8,06
8,88
8,85
9,00
8
Suhu
28,3
28,25
29,35
27,95

Jamur
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
9
Penggumpalan
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
9
Sumber : Data Primer Praktikum Teknologi Pengolahan Pakan, 2011.

4.2.1.   Bau dan rasa
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan bau dan rasa amoniasi jerami padi dengan penambahan urea 28 gram diperoleh hasil bahwa amoniasi pada minggu ke-0 berbau segar, minggu ke-1 berbau amoniak tidak menyengat dengan rasa hambar, minggu ke-2 dan ke-3 berbau amoniak menyengat dengan rasa hambar. Rasa hambar menandakan bahwa amoniasi jerami padi tidak terkontaminasi bakteri atau jamur dari luar. Bau amoniak menyengat pada amoniasi disebabkan karena tingginya kadar urea yang dipakai saat proses amoniasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Soejono (1986) yang menyatakan bahwa kandungan urea pada proses amoniasi mempengaruhi tinggi rendahnya kandungan amoniak, yang menimbulkan bau menyengat pada hasil amoniasi.
4.2.2.   Tekstur
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan tekstur amoniasi jerami padi dengan penambahan urea 28 gram diperoleh hasil tekstur amoniasi jerami minggu ke-0 sesuai asli, minggu pertama agak remah, minggu ke-2 agak remah, dan minggu ke-3 remah. Perubahan tekstur tersebut diakibatkan oleh adanya penguraian ikatan serat pada jerami oleh amonia, sehingga tekstur dari jerami amoniasi berubah dari kasar atau keras menjadi  lembek  akibat adanya  proses amoniasi. Hal ini sesuai pendapat Tonysapi (2008) yang menyatakan bahwa tujuan amoniasi adalah mengurai ikatan serat yang sangat kuat pada dinding jerami tersebut,  agar sellulosa dan hemisellulosa yang mempunyai nilai energi sangat tinggi bisa dicerna dan diserap oleh pencernaan ternak ruminansia.

4.2.3.   Warna
            Berdasarkan hasil praktikum pengamatan warna amoniasi jerami padi dengan penambahan urea 28 gram diperoleh hasil bahwa jerami amoniasi pada minggu ke-0 dan minggu ke-1 berwarna kuning kecoklatan, minggu ke-2 dan ke-3 berwarna coklat. Perubahan warna tersebut akibat adanya penambahan ammonia pada jerami dan diperam pada kondisi anaerob. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahardi (2009) yang menyatakan bahwa manfaat dari amoniasi yaitu merubah tekstur dan warna jerami yang semula keras berubah menjadi lunak dan rapuh, warna berubah dari kuning kecoklatan menjadi coklat tua.
4.2.4.   Jamur
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan jamur amoniasi jerami padi dengan penambahan urea 28 gram diperoleh hasil bahwa pada jerami amoniasi baik pada pengamatan pada minggu ke-0 hingga minggu ke-3 menunjukkan bahwa tidak terdapat jamur yang tumbuh pada jerami amoniasi. Amoniasi jerami padi tidak terdapat jamur, hal ini menunjukkan bahwa pembuatan amoniasi jerami padi tersebut berhasil. Penambahan urea sebagai sumber ammonia pada jerami dalam kondisi anaerob juga dapat digunakan sebagai cara pengawetan jerami agar tidak ditumbuhi jamur. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahardi (2009) yang menyatakan bahwa manfaat amoniasi adalah meningkatkan NH3 pada cairan rumen, memberikan bahan nitrogen yang positif, menghambat pertumbuhan jamur, dan memusnahkan telur cacing yang terdapat dalam jerami.

4.2.5.   Penggumpalan
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan penggumpalan amoniasi jerami padi dengan penambahan urea 28 gram diperoleh hasil bahwa pada amoniasi jerami padi pada minggu ke-0 sampai minggu ke-3 tidak terjadi penggumpalan. Penggumpalan tersebut dipengaruhi oleh adanya jamur yang terkontaminasi didalam proses amoniasi. Kualitas amoniasi jerami padi termasuk sangat baik, karena tidak terjadi penggumpalan  Hal ini sesuai dengan pendapat Komar (1984) yang menyatakan bahwa ciri – ciri kualitas amoniasi yang baik yaitu berbau amonia menyengat, berwarna coklat tua, tekstur remah, pH basa dan tidak berjamur atau menggumpal.

4.2.6. pH
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan pH amoniasi jerami padi dengan penambahan urea 28 gram diperoleh hasil bahwa pada amoniasi jerami padi pada minggu ke-0 sampai minggu ke-3 mengalami peningkatan pH. Hal ini dikarenakan penambahan urea mengakibatkan pH pada amoniasi jerami padi meningkat oleh pengaruh adanya bakteri asam butirat. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1996) yang menyatakan bahwa peningkatan pH pada proses amoniasi disebabkan oleh bakteri yang bersifat basa. Syarief et al. (2003) menambahkan bakteri asam butirat yang menyebabkan pH basa dapat tumbuh pada pH > 7.








BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1.      Simpulan
Berdasarkan hasil praktikum Teknologi Pengolahan Pakan dapat  disimpulan bahwa silase yang dihasilkan kurang baik karena terdapat jamur yang banyak dan terjadi penggumpalan. Pada proses pembuatan silase dibutuhkan suasana yang kedap udara agar tercipta suasana anaerob untuk pertumbuhan bakteri sehingga diperlukan pemadatan yang baik (tidak ada rongga/celah) agar bersifat anaerob dalam tempat pemeraman. Amoniasi jerami padi yang dihasilkan sangat bagus karena tidak ada jamur dan tidak ada penggumpalan serta pH mencapai 9.

5.2.      Saran
Saran yang dapat diberikan untuk praktikum Teknologi Pengolahan Pakan yaitu sebaiknya asisten lebih mendampingi praktikan saat proses pembuatan amoniasi maupun silase agar semua praktikan dapat mengerti dengan baik mengenai pelaksanaan praktikum dan sebaiknya asisten lebih cermat dalam pengoreksian pretes. Selain itu, kebersihan laboratorium juga harus dijaga, karena baunya yang tidak enak mengganggu kegiatan praktikum. Praktikum dilengkapi dengan analisis proksimat agar dapat membedakan antara sampel sebelum perlakuan dan sampel sesudah perlakuan.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pertanian, 1980. Silase sebagai Makanan Ternak. Departemen Pertanian. Balai Informasi Pertanian. Ciawi, Bogor.
Febrisantosa, S. 2007. Silase Komplit Untuk Pakan Ternak. http://jiwocore. wordpress.com/2009/01/06/silase-komplit-untuk-pakan-ternak/. Diakses pada tanggal 11 Desember 2010 pukul 13.00 WIB.

Hartadi, H, ReksohadiprojoS. dan A.D. Tillman. 1993. Tabel- tabel Komposisi Bahan Pakan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Komar, A. 1984. Teknologi Pengolahan Jerami sebagai Makanan Ternak. Yayasan Dian Grahita, Bandung.

Lubis, S., R. Rachmat, Sudaryono., S. Nugraha. 2002. Pengawetan Dedak Dengan Metode Inkubasi. Balitpa Sukamandi, Kerawang

Murni, R., Suparjo, Akmal dan B. L. Ginting. 2008. Teknologi pemanfaatan Limbah untuk pakan. Laboratorium Makanan Ternak fakultas Peternakan Universitas, Jambi. http://jojo.files.wordpress.com. Diakses pada tanggal 11 Desember 2010 pukul 13.08 WIB.

Pioner Development Foundation. 1991. Silage Technology. A.Trainers Manual. Pioner Development Foundation for Asia and The Pacific Inc. :15 – 24.

Rahardi, S. 2009. Pembuatan Amoniasi Jerami Padi Sebagai Pakan Ternak. http://ilmuternak.wordpress.com/nutrisi/teknik-pembuatanamoniasi-urea-jerami-padi-sebagai-pakan-ternak/ Diakses pada tanggal 10 Desember 2010 pukul 18.34.WIB.

Regan, C.S. 1997. Forage Concervation in The Wet Dry Tropics for Small Landholder.

Siregar, S.B. 1996. Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.

Soejono, M. 1986. The Effect of Duration (weeks) Urea Ammonia Treatment on In Vivo Digestibility. Unpublished.

Syarief, R., La E., dan C.C. Nurwitri. 2003. Mikotoksin Bahan Pangan. IPB Press. Bogor.

Tillman, D.A., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tonysapi. 2008. Pengawetan Pakan Dengan Cara Amoniasi. http://multiply.com//   Diakses pada tanggal 11 Desember 2010 pukul 13.33 WIB.















LAMPIRAN
Lampiran 1. Perhitungan kebutuhan bekatul
Kebutuhan bekatul      = dosis bekatul x BK daun gamal
                                    = 5% x (500 x 30%)
                                    = 5% x 150 g
                                    = 7,5 g











Lampiran 2. Perhitungan kebutuhan urea
Konversi ke BK jerami padi               = BK jerami padi x gram bahan
                                                            = 70% x 500 g
                                                            = 350 g BK
Kebutuhan urea                                   = dosis urea x BK jerami padi
                                                            = 8% x 350 g
                                                            = 28 g

Lampiran 3. Perhitungan penambahan air
Volume air yang dibutuhkan   =

                                        40%     =  
                                             =
                           2000 + 40 a    = 15000 + 100 a
                                        
                                              a    = 83,33 ml





















Lampiran 4. Gambar Silase Daun Gamal dengan Penambahan Bekatul
Ilustrasi 1. Silase Daun Gamal
Minggu ke-0
Ilustrasi 2. Silase Daun Gamal
Minggu ke-1
















Ilustrasi 3. Silase Daun Gamal
Minggu ke-2
Ilustrasi 4. Silase Daun Gamal
Minggu ke-3







Lampiran 5. Gambar Amoniasi erami Padi dengan Penambahan Urea
Ilustrasi 5. Amoniasi Jerami Padi
Minggu ke-0
Ilustrasi 6. Amoniasi Jerami Padi
Minggu ke-1

Ilustrasi 7. Amoniasi Jerami Padi
Minggu ke-2
Ilustrasi 8. Amoniasi Jerami Padi
Minggu ke-3




Post a Comment